Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Saran Sandi ke Pemerintah untuk Atasi Pelemahan Rupiah

Selasa 04 Sep 2018 16:31 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Sandiaga Uno menghadiri acara seminar Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) Kota Bogor sebagai pembicara, Senin (3/9).

Sandiaga Uno menghadiri acara seminar Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) Kota Bogor sebagai pembicara, Senin (3/9).

Foto: Republika/Haura Hafizhah
Sandi meminta semua pihak untuk urung rembuk mengatasi persoalan ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Sandiaga Salahuddin Uno, politisi berlatar belakang pengusaha dan bakal calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto, mengingatkan pemerintah terkait pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS. Sandi dalam kunjungannya ke Pekanbaru, Provinsi Riau, Selasa (4/9), meminta pemerintah fokus dalam menangani pelemahan nilai tukar rupiah dan jangan menghabiskan waktu untuk politik.

"Jangan campur adukkan ekonomi dan politik. Fokus saja ekonomi dulu, itu yang kita harapkan (ke pemerintah)," ujarnya.

Hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada pada level Rp 14.800 dan mulai mendekati Rp 15 ribu. Ia menyebutkan, pemerintah harus mewaspadai pelemahan nilai tukar tersebut, terutama terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat.

Bahkan, dia juga mengkhawatirkan dampak luas pelemahan nilai tukar rupiah berimbas pada meningkatnya biaya produksi perusahaan, hingga berpotensi terjadinya pemutusan hubungan kerja atau PHK. Untuk itu, mantan wakil gubernur DKI Jakarta tersebut memberikan saran kepada pemerintah agar dapat duduk bersama dengan dunia usaha dalam menyikapi fenomena ini.

"Saatnya pemerintah dan dunia usaha duduk bersama-sama, menyikapi agar rupiah ini, pelemahan ini tidak membebani masyarakat. Antisipasi harga-harga meningkat, biaya produksi perusahaan (meningkat). Saya khawatir berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK)," katanya menjelaskan.

Lebih jauh, pria kelahiran Rumbai, Pekanbaru, 49 tahun silam itu mengingatkan pemerintah mulai mengencangkan ikat pinggang dan menunda impor yang tidak diperlukan. "Tunda dulu pengeluaran berbasis dolar, tunda dulu impor tidak perlu, dan dorong gunakan produk lokal," tutur pria berkacamata tersebut.

Sandi sebelumnya sempat menolak secara halus ajakan debat ekonomi dari tim kampanye nasional Jokowi-Maaruf Amin. Sandi menilai, agar bangsa ini bersatu, jangan melakukan debat ekonomi, melainkan ikut rembuk dalam menyelesaikan masalah.

Baca juga, Mau Sampai Kapan Rupiah Melemah?

Bahkan, dia mengungkapkan sudah melakukan pertemuan dengan mantan gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dan membahas penyelesaian masalah ekonomi pada tiga-lima tahun ke depan. "Fluktuasi nilai kurs yang terus terjadi, tidak lepas dari kebijkan eksternal yang tidak bisa dikontrol, namun harus fokus saja ada kebijakan internal," katanya.

"Harapan saya, agar ekonomi menjadi pusat perhatian kita. Kita hentikan dulu kita saling 'cakar-mencakar' ini. Kita fokus dulu. Saya nggak melihat katalis ekonomi kita bisa lebih stabil enam sampai sembilan bulan ke depan, jadi kita harus bersatu," ujarnya menjelaskan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA