Wednesday, 17 Rajab 1444 / 08 February 2023

Pemerintah Buat Daftar Komoditas Pemacu Ekspor Jangka Pendek

Selasa 04 Sep 2018 15:56 WIB

Red: Nidia Zuraya

Kapal Kargo pengangkut kontainer komiditi ekspor (ilustrasi)

Kapal Kargo pengangkut kontainer komiditi ekspor (ilustrasi)

Foto: sustainabilityninja.com
Daftar komoditas pemacu ekspor ini akan dirilis dalam dua hari ke depan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah merinci daftar komoditas ekspor yang mampu untuk didorong dalam jangka pendek. Daftar komoditas ekspor tersebut sebagai bagian dari upaya mengurangi defisit transaksi berjalan yang sempat melebar pada kuartal II 2018.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan rincian daftar menyangkut komoditas beserta tujuan ekspornya tersebut diharapkan tersedia dalam dua hari ke depan. "Ada penugasan ke Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri ESDM untuk membuat rincian dari rencana peningkatan ekspor dengan matriks komoditasnya apa, tujuan ke mana, dan sebagainya. Diberi waktu dua hari," kata Darmin ditemui di kantornya di Jakarta, Selasa (4/9).

Darmin mengungkapkan beberapa komoditas yang potensial untuk masuk dalam daftar tersebut antara lain batu bara, hasil perkebunan, dan beberapa yang menyangkut industri manufaktur. Upaya mendorong ekspor itu, lanjut dia, tetap harus mempertimbangkan kondisi perdagangan global yang masih belum pasti. Darmin mengatakan perlambatan ekspor saat ini hanya terjadi untuk tujuan Amerika.

"Kami identifikasi satu per satu, itu akan diumumkan sebagai langkah (peningkatan ekspor) yang akan dilakukan dalam jangka pendek," kata dia.

Pemerintah juga berupaya menekan impor sebagai salah satu langkah mengurangi defisit transaksi berjalan. Terkait hal tersebut, Darmin mengatakan bahwa isu yang dibahas antara lain menyangkut pajak penghasilan (pph) impor dan serapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Terkait TKDN, sektor yang dibahas terutama menyangkut proyek kelistrikan karena termasuk yang paling tinggi konten impornya. Konten impor untuk proyek jalan dan jembatan, menurut Darmin, tidak terlalu tinggi.

Defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II-2018 mencapai 8 miliar dolar AS atau tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari kuartal sebelumnya sebesar 5,7 miliar dolar AS atau 2,2 persen terhadap PDB.

Sementara nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (4/9) pagi stagnan di level Rp 14.810 per dolar AS dan cenderung rentan terdepresiasi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA