Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Ini yang Diharapkan Pasar Setelah Pengumuman Capres-Cawapres

Jumat 10 Aug 2018 14:22 WIB

Red: Nidia Zuraya

Sejumlah pengunjung duduk berlatar belakang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/6).

Sejumlah pengunjung duduk berlatar belakang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/6).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Jokowi dan Prabowo sudah mengumumkan siapa nama pendampingnya dalam Pilpres 2019

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koalisi partai-partai politik sudah mengumumkan nama calon presiden (capres) dan wakil presiden (wapres) untuk Pilpres 2019. Bagaimana respons pasar terhadap kedua pasangan capres dan cawapres?

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan respon pasar domestik terhadap kepastian munculnya nama-nama capres dan wapres untuk Pilpres 2019 hanya bersifat temporer atau sementara.

"Respon terhadap variabel makro kan biasanya nilai tukar dan indeks harga saham yang jadi ukuran. Itu juga belum jadi respon yang permanen, bisa juga temporer," ujar Enny di Jakarta, Jumat (10/8).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/8) ini dibuka menguat 25,25 poin atau 0,42 persen menjadi 6.090,50. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 5,20 poin atau 0,54 persen menjadi 965,35.

Setelah muncul kepastian nama calon presiden beserta wakilnya, sentimen berkaitan dengan politik di pasar keuangan domestik dinilai cenderung berkurang sehingga IHSG menguat. Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat pagi bergerak menguat sebesar enam poin menjadi Rp14.426 dibanding sebelumnya Rp14.432 per dolar AS.

Kabar mengenai pengumuman pasangan calon presiden dan wakil presiden turut mengurangi spekulasi di pasar keuangan domestik.

Menurut Enny, yang paling utama diharapkan pasar ada tiga hal. Pertama, pemilihan umum di Indonesia berlangsung lancar dan aman. Kedua, tidak ada gejolak terhadap stabilitas politik.

"Ketiga, ada konsistensi kebijakan. Jadi jadi kalau tiga hal itu tidak berisiko secara kalkulasi pelaku pasar, ya pasar tidak akan merespon negatif," ujar Enny.

Kendati demikian, lanjut Enny, yang jadi persoalan adalah saat ini respon pasar tidak hanya ditentukan oleh urusan politik saja namun juga dinamika lingkungan eksternal seperti kebijakan-kebijakan pemerintahan AS dibawah pimpinan Presiden AS Donald Trump yang cukup kontroversial dan juga isu perang dagang antara AS dan China serta beberapa negara lainnya.

"Selain itu, kemampuan fundamental ekonomi kita menahan gejolak pelemahan Rupiah dan macam-macam. Jadi respon pasar tidak single variable," kata Enny.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja mengumumkan pencapresannya pada Pilpres 2019 pada Kamis (9/8) kemarin. Jokowi akan didampingi oleh Ma'ruf Amin sebaga calon wakil presiden.

Jokowi diusung oleh sembilan partai politik yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja yaitu PDI Perjuangan, Nasdem, Golkar, Hanura, PPP, PKB, PKPI, Perindo, dan PSI.

Sementara itu, Prabowo Subianto pada Kamis (9/8) malam juga mendeklrasikan dirinya sebagai calon presiden pada Pilpres 2019 mendatang didampingi oleh Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden. Prabowo-Sandi diusung oleh Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES