Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

Rupiah Kembali Melemah, Sentuh Rp 14.500 per Dolar AS

Kamis 19 Jul 2018 18:46 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Petugas menunjukan pecahan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta (ilustrasi)

Petugas menunjukan pecahan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta (ilustrasi)

Foto: ANTARA
BI memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kurs rupiah kembali ditutup melemah. Pada spot perdagangan mata uang sore ini, (19/7). Mata uang Garuda tersebut turun 28 poin persen atau 0,19 persen ke level Rp 14.442 per dolar AS.

Bahkan berdasarkan pantauan di Reuters, pelemahan kurs rupiah mencapai level Rp 14.500 per dolar AS. Tepatnya menurun ke posisi Rp 14.524 per dolar AS.

Sementara itu, pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah  berada di level Rp 14.418 per dolar AS. Angka itu melemah dibandingkan posisi Selasa (18/7) pada level Rp 14.406 per dolar AS.

Pengamat Pasar Modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada menilai, pertahanan rupiah di teritori positif tampaknya tidak mampu bertahan lebih lama. Hal itu seiring mulai adanya sentimen negatif dari menguatnya laju dolar AS.

"Adanya sentimen tersebut dikhawatirkan dapat membuka peluang pelemahan lebih lanjut. Seiring belum adanya sentimen signifikan yang bisa membuat laju rupiah bertahan di zona hijaunya," jelas Reza, Kamis, (19/7).

Lebih lanjut, kata dia, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) nanti kemungkinan akan tetap mempertahankan suku bunga acuannya. "Diharapkan hal itu dapat menahan pelemahan rupiah lebih lanjut," katanya.

Baca juga, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan.

Bank Indonesia memang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 5,25 persen. Selain itu, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,50 persen dan suku bunga Lending Facility tetap 6,00 persen. Keputusan diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Juli 2018.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan, keputusan tersebut konsisten dengan upaya BI mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Sehingga dapat menjaga stabilitas, khususnya stabilitas nilai tukar Rupiah. "Kami pandang bahwa suku bunga kebijakan kita itu sudah cukup kompetitif di dalam memberikan ruangan bagi masuknya aliran modal asing," terang Perry dalam konferensi pers hasil RDG di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (19/7).

Perry menegaskan kebijakan Bank Indonesia tetap hawkish dan fokus pada menjaga stabilitas perekonomian khususnya nilai tukar. Hawkish artinya BI akan selalu menjalankan kebijakan moneter yang preemptive, front loading dan a head the curve. "Keputusan mempertahankan suku bunga itu konsisten dengan upaya BI menjaga stabilitas dan menjaga daya tarik pasar keuangan," jelasnya.

Perry menyatakan, Bank Indonesia akan terus memantau lagi perkembangan ke depan ekonomi dalam negeri dan luar negeri. Antara lain mengenai arah kebijakan Bank Sentral AS the Federal Reserve. Meskipun BI sudah memperkirakan masih akan ada kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate/FFR) dua kali tahun ini dan tiga kali tahun depan, tetapi BI akan tetap memantau faktor yang mempengaruhi kenaikan FFR.

Selain itu, BI juga akan memantau imbal hasil obligasi pemerintah AS ke depan. Sejauh ini, BI memperkirakan imbal hasil obligasi pemeritah AS yang bertenor 10 tahun sampai akhir tahun ini akan naik sampai 3,4 persen.

BI juga akan memantau berbagai risiko pasar keuangan global yang dalam beberapa waktu terakhir sangat diwarnai ketegangan perdagangan AS dan Cina dan sejumlah negara lain. Serta respons negara-negara tersebut terhadap ketegangan perdagangan global.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES