Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Lebih Rendah dari Asumsi APBN

Selasa 17 Jul 2018 19:34 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Nur Aini

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) memberikan hasil tanggapan pemerintah kepada Ketua Sidang Utut Adianto (kedua kiri), disaksikan Ketua DPR Bambang Soesatyo (kiri) dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah pada Sidang Paripurna DPR di Komplek DPR, Jakarta, Selasa (17/7).

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) memberikan hasil tanggapan pemerintah kepada Ketua Sidang Utut Adianto (kedua kiri), disaksikan Ketua DPR Bambang Soesatyo (kiri) dan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah pada Sidang Paripurna DPR di Komplek DPR, Jakarta, Selasa (17/7).

Foto: Antara/Muhammad Adimadja
Pertumbuhan ekonomi semester I 2018 diproyeksikan tumbuh 5,1 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2018 mencapai 5,2 persen. Hal itu lebih rendah dari asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2018 yang sebesar 5,4 persen. Pertumbuhan ekonomi pada semester pertama diproyeksikan tumbuh sebesar 5,1 persen sementara pada semester kedua akan tumbuh 5,3 persen.

"Untuk semester pertama ini dari pertumbuhan ekonomi kita perkirakan 5,1 persen dan total keseluruhan 2018 adalah 5,2 persen," kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani usai mengikuti rapat dengan Badan Anggaran DPR di kompleks parlemen, Jakarta pada Selasa (17/7).

Sejumlah asumsi dasar ekonomi makro turut bergerak berdasarkan proyeksi pemerintah. Menkeu mengatakan, inflasi diproyeksi tetap terjaga di level 3,5 persen dengan realisasi inflasi tahunan pada semester pertama 3,1 persen.

Tingkat bunga SPN 3 bulan diproyeksikan mencapai 5 persen dari asumsi APBN 5,2 persen. Nilai tukar rupiah diproyeksikan mencapai Rp 13.970 per dolar AS sementara asumsi APBN sebesar Rp 13.400 per dolar AS.

Harga minyak mentah Indonesia diproyeksikan melonjak mencapai 70 dolar AS per barel sementara asumsi APBN sebesar 48 dolar AS per barel. Lifting minyak diproyeksi 775 ribu barel per hari sementara asumsinya mencapai 800 ribu barel per hari. Kemudian, lifting gas diproyeksi mencapai 1.116 ribu barel setara minyak per hari sementara asumsi dalam APBN 1.200 ribu barel setara minyak per hari.

"Dengan lingkungan makro itu, tentu tantangan ke depan adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan komponen-komponen dari pembangunan yang sudah cukup positif," katanya.

Baca: JK Sebut Manfaat Bank Asing Biayai Akuisisi Freeport

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES