Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Menkeu Sri: Kenaikan Impor Tunjang Sektor Produksi

Selasa 26 Jun 2018 05:01 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers tentang kinerja APBN di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (25/6).

Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers tentang kinerja APBN di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (25/6).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Impor yang tercatat mayoritas bahan modal dan bahan baku.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan kenaikan nilai impor pada Mei 2018 akan mendukung kegiatan investasi di sektor produksi. Publik diminta tak perlu khawatir dengan dengan peningkatan tersebut.

"Kenaikan impor ini untuk menunjang sektor produksi," katanya dalam jumpa pers perkembangan APBN di Jakarta, Senin.

Sri Mulyani mengatakan impor yang tercatat pada periode ini kebanyakan merupakan bahan modal maupun bahan baku yang dibutuhkan untuk mendorong produksi di berbagai sektor ekonomi.

Untuk itu, apabila porsi impor ini dikurangi dalam jangka pendek, maka dampaknya berpotensi mengganggu kinerja investasi dan menekan pertumbuhan ekonomi.

Namun, ia memastikan pemerintah dalam jangka menengah dan panjang akan membangun industri dalam negeri yang berorientasi pada bahan baku untuk mengurangi impor.

"Pemerintah akan terus meningkatkan policy untuk membangun industri dalam negeri agar kebutuhan barang antara dan barang modal bisa dipenuhi di dalam negeri," ujar Sri Mulyani.

Selain itu, menurut dia, penguatan struktur daya saing dalam negeri juga sangat penting agar kinerja ekspor makin meningkat dan defisit neraca perdagangan makin berkurang.

Baca juga,  Impor Melonjak, Defisit Neraca Dagang Makin Lebar.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2018 mengalami defisit hingga 1,52 miliar dolar AS.

Nilai ekspor pada Mei 2018 tercatat sebesar 14,54 miliar dolar AS atau meningkat 16,31 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 22,28 persen (yoy).

Sedangkan untuk impor pada Mei 2018 tercatat mencapai 17,64 miliar dolar AS atau meningkat 9,17 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 24,75 persen (yoy).

Defisit neraca perdagangan ini dominan disumbangkan oleh defisit pada sektor migas sebesar 1,24 miliar dolar AS, sedangkan sektor nonmigas hanya 0,28 miliar dolar AS.

Menurut penggunaan barang, impor barang konsumsi melonjak akibat kebutuhan Ramadhan. Kepala BPS Suhariyanto merinci, impor barang konsumsi Mei 2018 adalah sebesar 1,73 miliar dolar AS. Nilai impor itu mengalami peningkatan 14,48 persen (mtm) dan 34,01 persen (yoy).

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA