Thursday, 6 Rabiul Akhir 1440 / 13 December 2018

Thursday, 6 Rabiul Akhir 1440 / 13 December 2018

Potensi Pengembangan Gula Kristal Purbalingga Masih Besar

Ahad 24 Jun 2018 18:11 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Yusuf Assidiq

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekda Purbalingga, Widiyono, melepas truk yang mengangkut gula kristal asal Purbalingga ke Yogyakarta.

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekda Purbalingga, Widiyono, melepas truk yang mengangkut gula kristal asal Purbalingga ke Yogyakarta.

Foto: Eko Widiyatno.
Penyuluhan dan pelatihan produksi gula kristal diberikan kepada petani penderes.

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA --  Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dinilai memiliki potensi pengembangan produk gula kristal yang masih sangat besar. Produk gula kristal ini bahkan dapat menjadi salah satu komoditas ekspor dari wilayah setempat.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga, Joko Sagastono, mengatakan produksi gula kristal yang dihasilkan para petani penderes di Purbalingga saat ini baru mencapai 9.242,67 ton per tahun.

"Gula kristal yang dihasilkan tersebut, terdiri dari gula kristal tersertifikasi organik sebanyak 8.882,67 ton per tahun, dan gula kristal organik belum tersertifikasi sebanyak 360 ton," katanya, usai menghadiri peringatan ekspor 1.700 ton gula kristal yang dilakukan oleh CV Navil Natural Yogyakarta, di Desa Campakoah Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga, Sabtu (24/6).

Sementara produksi gula kelapa secara keseluruhan, menurut Joko, mencapai 55.140 ton per tahun. ''Dengan demikian, produksi gula kristal yang dihasilkan petani penderes di Kabupaten Purbalingga, baru mencapai sekitar 11,17 persen dari produksi gula kelapa secara keseluruhan,'' jelasnya.

Masih rendahnya produksi gula kristal ini sangat disayangkan, karena diversifikasi produk dari sekadar gula cetak menjadi gila kristal, memberi keuntungan yang cukup besar.  Menurutnya, harga gula cetak atau gula Jawa di pasaran saat ini hanya sekitar Rp 8.000-Rp 9.000 per kg.

Sementara bila dijual dalam bentuk gula kristal, harga jualnya bisa mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu per kg. Dengan demikian, bila petani mau memproduksi gula kristal, keuntungan yang diperoleh sebenarnya jauh lebih besar daripada hanya sekadar memproduksi gula cetak.

"Kita sudah berulang kali memberi penyuluhan dan pelatihan tentang produksi gula kristal. Namun mengubah kebiasaan petani, memang tidak mudah,'' jelasnya.

Lebih lanjut Joko menyebutkan, perusahaan-perusahaan yang sudah masuk ke Purbalingga untuk membeli gula kristal produksi petani, sebenarnya sudah cukup banyak. ''Hingga saat ini, ada 13 perusahaan yang sudah masuk Purbalingga,'' katanya.

Direktur CV Navil Natural, Hermawan, mengakui mengubah kebiasaan petani penderes agar mengubah hasil produksinya dari gula cetak menjadi gula kristal, membutuhkan kesabaran yang cukup tinggi.

''Untuk mencapai tingkat penyerapan gula kristal petani seperti sekarang ini, kami harus melakukan pembinaan lebih dari dua tahun,''  kata dia.

Hermawan menyebutkan, untuk memenuhi kebutuhan pembeli di luar negeri, pihaknya masih terus berupaya melakukan pembinaan petani di sentra-sentra penghasil gula kelapa agar bersedia mendiversifikasi produksinya dari gula cetak menjadi gula kristal. Termasuk memberikan pelatihan-pelatihan, agar gula kristal yang dihasilkan bisa memenuhi standar kualitas ekspor.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA