Tuesday, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

Tuesday, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

Pertamina Berharap Pemerintah Bayar Utang

Kamis 02 Nov 2017 18:17 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Gita Amanda

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik.

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik.

Foto: Puspa Perwitasari/Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Elia Massa Manik, berharap pemerintah bisa segera melunasi utang-utang yang selama ini masih membengkak. Utang pemerintah tersebut antara lain untuk menyubsidi alokasi Premium dan LPG. Terhitung sejak 2016 pemerintah masih mengantongi utang kepada Pertamina sebesar Rp 22 triliun.

Angka tersebut dinilai Elia cukup besar dan bisa menambah modal Pertamina untuk bisa melanjutkan operasional. Tak hanya negara, setidaknya dari total piutang Pertamina sebesar Rp 30 triliun, di luar utang pemerintah sekitar Rp 10 triliun lainnya merupakan piutang TNI, PLN dan pihak pihak aparatur negara lainnya.

 

"Harga tidak disesuaikan its okay, tapi kalau pemerintah bisa bayar utang tersebut bisa lumayan buat kami melanjutkan operasional," ujar Elia di Skye Restaurant, Kamis (2/11).

 

Elia tak menampik meski Pertamina punya negara dan manfaat dari operasional Pertamina juga untuk masyarakat namun Elia mengatakan Pertamina memiliki visi misi untuk berkembang. Total aset Pertamina saat ini berada dalam posisi 50 miliar dolar Amerika Serikat. Namun angka tersebut belum termasuk beberapa blok yang baru saja dimiliki oleh pertamina.

 

"Kita masih survive, kalaupun misalanya dengan kebijakan BBM Satu Harga, lalu harga nggak naik. Yes, kita survive. Tapi dampaknya nanti ke depan, misalnya kita dapat tambahan one billion USD bisa kita gunakan untuk future investment kita," ujar Elia.

 

Elia mengatakan meski telihat saat ini Pertamina tampak survive, namun ke depan memang akan ada banyak potensi pendapatan dan produksi yang bisa dimanfaatkan oleh Pertamina. Ia menjelaskan, untuk bisa mengembangkan potensi-potensi tersebut Pertamina membutuhkan modal untuk bisa melakukan pengeboran.

 

"Untuk Mahakam saja 2018, kita butuh Capex 700 juta USD. Ini spending, kalau nggak gitu ya turun nanti. Sebagai contoh, yang namanya Mahakam mulai 2015 sudah nggak ngebor. Itu nggak melakukan boring, kita relize kalau sembilan sumur akan kurang, jadi kita mempercepat akselerasi untuk melakukan drilling di tahun 2017 ini. Jadi, paling tidak kita bisa capai 14 sumur. Belum mulai saja kita simpen Capex 180 juta USD," ujar Elia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA