Rabu 10 Aug 2022 15:08 WIB

Menkeu: Reformasi Tata Kelola Pasar Modal Jadi Kunci Hadapi Guncangan

Perkembangan pasar modal Indonesia telah teruji melalui berbagai peristiwa sejarah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai perbaikan dan tata kelola pasar modal Indonesia merupakan kunci keberhasilan untuk menghadapi berbagai guncangan baik domestik maupun global.
Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai perbaikan dan tata kelola pasar modal Indonesia merupakan kunci keberhasilan untuk menghadapi berbagai guncangan baik domestik maupun global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai perbaikan dan tata kelola pasar modal Indonesia merupakan kunci keberhasilan untuk menghadapi berbagai guncangan baik domestik maupun global.

Menurut Sri Mulyani, perkembangan pasar modal Indonesia telah teruji melalui berbagai peristiwa sejarah di dalam perekonomian Indonesia, mulai sejak zaman kolonial, selama perjuangan kemerdekaan Indonesia, serta selama menghadapi krisis keuangan di Indonesia maupun krisis keuangan global.

Baca Juga

"Guncangan-guncangan ini selalu mempengaruhi sentimen pasar modal Indonesia, termasuk hari ini dengan adanya pandemi COVID-19 dan perang yang terjadi di Ukraina. Tantangan tersebut tentu sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh pasar modal Indonesia," ujar Sri Mulyani melalui video dalam acara peringatan 45 tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia di Jakarta, Rabu (10/8/2022).

Dalam lima tahun terakhir, lanjut Sri Mulyani, pasar modal Indonesia tumbuh pesat dengan didorong oleh program reformasi yang ditetapkan dan juga otomatisasi proses bisnis, perlindungan investor, serta akselerasi pendalaman pasar.

"Ketika IHSG mengalami turbulensi ke titik terendah pada Maret 2020 di awal pandemi Covid-19, pasar modal Indonesia mampu merespons dengan baik dengan dukungan kebijakan yang ditetapkan bersama-sama pemerintah, dengan SRO, dan stakeholder lainnya. Guncangan luar biasa dapat ditangani dengan baik," kata Sri Mulyani

Ia menilai saat ini kinerja pasar modal sudah kembali pulih dan terus meningkatkan kepercayaan investor. Dengan jumlah lebih dari sembilan juta investor pada 28 Juni 2022 lalu, mengindikasikan kepercayaan dan sekaligus tantangan bagi pasar modal Indonesia untuk menjaga kepercayaan para investor terutama investor skala kecil.

"Dengan volume lebih dari delapan kali lipat sejak 2017, ini juga merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa," ujar Sri Mulyani.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, selama 45 tahun pasar modal Indonesia telah berkontribusi bagi perekonomian Indonesia yaitu menjadi sumber pembiayaan bagi korporasi-korporasi Indonesia, dan sumber investasi bagi masyarakat luas dan para investor, serta berpartisipasi besar dalam perkembangan dan kemajuan perekonomian Indonesia.

"Semoga pasar modal Indonesia terus maju berkembang dan semakin menjadikan pasar modal yang sehat, transparan, terpercaya, dan inovatif. Menjadi tempat sumber pembiayaan bagi korporasi dan investasi, bagi para investor di dalam dan luar negeri," ujar Perry.

Sepanjang 2022, kinerja pasar modal Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan yang positif dan cukup menggembirakan. Bahkan di kuartal II 2022, pertumbuhan IHSG maupun nilai kapitalisasi pasar telah menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah yakni IHSG di level 7.276,19 pada 21 April 2022 dan nilai kapitalisasi pasar menyentuh Rp9.555 triliun pada 28 April 2022.

Meskipun di kuartal II hingga kuartal III tahun ini juga diwarnai berbagai dinamika pasar akibat tekanan inflasi global, namun hingga penutupan perdagangan 9 Agustus 2022 kemarin, IHSG masih mencatatkan kinerja yang baik, yaitu sebesar 7.102,88 poin atau tumbuh 7,92 persen secara year to date. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp9.315 triliun atau secara year to date juga meningkat sebesar 12,83 persen.

Aktivitas penghimpunan dana sepanjang 2022 juga terus meningkat. Hingga 8 Agustus 2022 kemarin, terdapat 149 penawaran umum dengan total emisi sebesar Rp151,18 triliun, 48 diantaranya adalah emiten baru.

Sementara itu, kinerja emiten berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2022, tercatat tumbuh positif. Dari 722 emiten yang telah menyampaikan laporan kuartal I 2022, terdapat peningkatan total laba emiten secara tahunan sebesar 110,01 persen menjadi sebesar Rp167,52 triliun. Kinerja emiten tersebut sudah lebih baik dibandingkan performa Emiten sebelum terjadinya pandemi pada 2019.

Sementara berdasarkan data laporan keuangan kuartal II 2022 yang baru disampaikan oleh 314 emiten, rata-rata pertumbuhan nilai laba tertinggi dibukukan oleh emiten-emiten yang bergerak di bidang teknologi sebesar 7.904,59 persen, diikuti emiten yang bergerak di bidang transportasi dan logistik sebesar 1.238,84 persen dan kemudian emiten yang bergerak di bidang energi sebesar 397,59 persen.

Meskipun beberapa indikator pasar modal menunjukkan peningkatan kinerja secara umum, namun kinerja reksa dana masih mengalami sedikit penurunan. Sampai dengan 5 Agustus 2022, total Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana menurun sebesar 5,05 persen dari Rp578,44 triliun per 30 Desember 2021 menjadi Rp549,23 triliun. Sementara nilai total dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) Industri pengelolaan investasi (termasuk KIK EBA-SP dan dana Tapera) juga menurun 0,98 persen dari sebelumnya sebesar Rp850,75 triliun per 30 Desember 2021 menjadi Rp842,41 triliun.

Dari sisi permintaan, juga terjadi pertumbuhan yang cukup signifikan. Sampai dengan 8 Agustus 2022, jumlah Single Investor Identification (SID) tercatat sebanyak 9,38 juta atau meningkat 25,2 persen dibandingkan akhir 2021. Pertumbuhan investor tertinggi dicatatkan oleh investor reksa dana dan mayoritas masih didominasi oleh kaum milenial dan generasi Z yang berumur di bawah 30 tahun yang mencapai 59,43 persen.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement