Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

 Sandiaga: Wacana Tiket Terusan Wisatawan Pulau Komodo Masih Dibahas

Selasa 05 Jul 2022 08:19 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petugas taman nasional menggunakan masker saat bertugas di pintu masuk kawasan wisata Pulau Kelor di Taman Nasional (TN) Komodo, Manggarai Barat, NTT.  Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan, wacana tiket terusan seharga Rp 3.750.000 bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Taman Nasional (TN) Komodo dan berlaku selama satu tahun, hingga saat ini masih dalam tahap pembahasan.

Petugas taman nasional menggunakan masker saat bertugas di pintu masuk kawasan wisata Pulau Kelor di Taman Nasional (TN) Komodo, Manggarai Barat, NTT. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan, wacana tiket terusan seharga Rp 3.750.000 bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Taman Nasional (TN) Komodo dan berlaku selama satu tahun, hingga saat ini masih dalam tahap pembahasan.

Foto: Antara/Kornelis Kaha
Wacana tiket terusan Rp 3,75 juta untuk jaga lingkungan TN Komodo

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan, wacana tiket terusan seharga Rp 3.750.000 bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Taman Nasional (TN) Komodo dan berlaku selama satu tahun, hingga saat ini masih dalam tahap pembahasan.

"Terkait wacana tiket terusan Taman Nasional Komodo, sampai saat ini belum ada pembahasan di lintas kementerian lembaga. Ini baru sebuah wacana," kata Menparekraf Sandiaga konferensi pers virtual, Senin (4/7/2022).  

Baca Juga

Ia mengatakan wacana ini merupakan upaya untuk menjaga keberlangsungan dari aspek konservasi lingkungan di TN Komodo. Sandiaga mengatakan pihaknya akan melakukan koordinasi intensif agar nantinya keputusan yang diambil merupakan kebijakan yang tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu. 

Selain mengutamakan nilai-nilai konservasi dan keberlanjutan lingkungan, namun juga agar pariwisata dapat memberikan dampak yang maksimal terhadap ekonomi masyarakat."Kita harus mengutamakan konservasi, bagaimana menjaga keberlanjutan dari Taman Nasional Komodo ini berarti harus ada pembatasan dari kunjungan wisatawan," katanya.

Sandiaga mengatakan, kunjungan wisatawan itu akan menambah beban sementara carrying capacity atau daya dukung sangat terbatas. Oleh karena itu, pihaknya masih akaan terus berkoordinasi lintas kementerian lembaga untuk membantu proses pengambilan keputusan kajian tersebut.

Ia mengatakan, pihaknya juga akan secara optimal mengembangkan destinasi-destinasi lain yang ada di Labuan Bajo sehingga kunjungan wisatawan dapat tersebar ke destinasi lainnya. Seperti kawasan Waerebo yang merupakan salah satu desa wisata terbaik juga wisata kuliner yang sangat menarik di salah satu destinasi super prioritas itu.

"Presiden juga akan meresmikan waterfront yang akan punya satu daya tarik unik yaitu menatap matahari terbenam tanpa harus pergi ke Taman Nasional Komodo. Jadi ini adalah destinasi-destinasi alternatif," kata Menparekraf Sandiaga.

Sandiaga optimistis, dengan potensi alam dan budaya serta ekonomi kreatif yang dimiliki Labuan Bajo, apapun keputusan yang diambil nantinya, Labuan Bajo akan tetap menjadi destinasi liburan yang menghadirkan peluang usaha dan lapangan kerja yang luas untuk masyarakat di Nusa Tenggara Timur secara khusus.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA