Jumat 28 Jan 2022 09:35 WIB

Pakar Sarankan Dua Investasi Ini yang Tumbuh Positif dan Menarik pada 2022

Analis menyebut investasi obligasi masih beri imbal hasil lebih baik dari deposito

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Nasabah melakukan pembelian obligasi syariah. Investasi yang dapat bertumbuh positif dan menarik pada 2022 antara lain ialah saham dan obligasi. Saham masih akan menarik tahun ini, namun faktor fundamental akan berperan penting di dalamnya. Selain itu, obligasi pemerintah atau korporasi memiliki track record dan rating yang bagus.
Foto: REPUBLIKA
Nasabah melakukan pembelian obligasi syariah. Investasi yang dapat bertumbuh positif dan menarik pada 2022 antara lain ialah saham dan obligasi. Saham masih akan menarik tahun ini, namun faktor fundamental akan berperan penting di dalamnya. Selain itu, obligasi pemerintah atau korporasi memiliki track record dan rating yang bagus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelaku industri optimistis pada pemulihan dunia usaha pada 2022. Analis Investment Connoisseur Moduit, Manuel Adhy Purwanto menyatakan bahwa pada 2022, pasar global dan domestik terlihat positif menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Ia mengatakan pada situasi 2020 lalu, kontraksi ekonomi terjadi karena fokus pada penanganan pandemi. Sehingga pada 2021, semua pihak tertuju dan fokus kepada pemulihan ekonomi.

"Hingga kemudian pada 2022 ini, pemerintah akan kembali fokus kepada pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan berada di kisaran lima persen, tentunya ini menjadi angin segar dalam konteks market outlook 2022,” katanya dalam Outlook Ekonomi 2022 yang digelar Moduit, Kamis (27/1).

Menurut Manuel, tren positif pertumbuhan ekonomi sudah berjalan. Salah satunya, selama hampir dua tahun terakhir terjadi peningkatan harga komoditas yang mendorong kenaikan ekspor.

Konsumsi masyarakat juga terus mengalami perbaikan. Hal ini dilihat dari adanya peningkatan belanja online selama pandemi hingga dua kali lipat.

"Belanja offline juga terus mengalami peningkatan, meskipun belum pulih, ini merupakan fakta bahwa 2022 bisa lebih berkembang,” katanya.

Meski begitu, Manuel melihat tantangan perekonomian 2022 adalah Inflasi yang masih tinggi. Terutama di negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa, sehingga akan terjadi pengetatan moneter.

Bank sentral Amerika Serikat juga berencana akan menaikan suku bunga di bulan Maret dan Mei dengan masing-masing sebesar 0,25 persen. Ini juga sebagai bentuk dinamika yang akan terjadi ke depannya.

Namun, berdasarkan pengalamannya, dalam kondisi ekonomi seperti itu, semua pihak, khususnya investor domestik tetap harus belajar dari pengalaman sebelumya. Ia menekankan pentingnya alokasi aset dalam berinvestasi.

Investor juga harus dapat memahami instrumen investasinya. "Jangan hanya ikut–ikutan tren atau rekomendasi orang tanpa bekal analisa dan pengalaman yang cukup di bidangnya,” ujarnya.

Di lain sisi, Manuel juga menuturkan bahwa investasi yang dapat bertumbuh positif dan menarik pada 2022 antara lain ialah saham dan obligasi. Saham masih akan menarik tahun ini, namun faktor fundamental akan berperan penting di dalamnya.

Selain itu, obligasi pemerintah atau korporasi memiliki track record dan rating yang bagus. Pada jangka pendek, obligasi masih memberikan keuntungan yang lebih baik  daripada suku bunga deposito yang masih rendah karena tingginya likuiditas di pasar.

Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM), Eri Kusnadi juga menilai bahwa pasar cenderung merespons positif kelanjutan pemulihan perekonomian pada tahun 2022 ini. Bahkan diperkirakan PDB Indonesia tahun ini akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Menurutnya, tren pemulihan ekonomi telah terjadi sejak tahun 2021 lalu. Ini terlihat dari meningkatnya pertumbuhan di berbagai sektor industri secara nasional. 

“Beberapa hal yang akan menopang perekonomian di tahun ini adalah kembalinya belanja modal dari berbagai perusahaan di seluruh dunia setelah mengalami penurunan yang signifikan akibat pandemi," katanya.

Selain itu juga, karena lebih lambatnya pemulihan ekonomi Indonesia pada tahun lalu. Yang kemudian membuat ruang pertumbuhan lebih lanjut di tahun ini menjadi lebih besar hingga 4,5-5,0 persen.

Namun demikian, Eri juga mengingatkan potensi risiko yang masih mungkin terjadi di tengah pandemi yang masih berlangsung saat ini. Secara khusus tentang kemungkinan hadirnya varian baru dari Covid-19 yang dapat berpotensi menunda atau menghambat laju pemulihan ekonomi domestik dan dunia.

Lebih lanjut Eri menambahkan tingginya tingkat inflasi di AS telah membuat The Fed terpaksa melakukan normalisasi kebijakan moneter yang lebih cepat dan lebih ketat. Dengan proses pembelajaran dari PPKM darurat pertengahan tahun lalu, serta kondisi makro dan fundamental yang lebih baik, ia berharap Indonesia dapat menghadapi risiko-risiko tersebut dengan lebih baik.

Pada kesempatan ini juga BPAM dan Moduit menyampaikan rencana distribusi reksadana terbaru yang bernama Batavia Disruptive Equity. Alokasi investasinya fokus pada saham-saham disruptif yang sering juga disebut atau dikaitkan dengan saham-saham ekonomi baru.

Reksa Dana Batavia Disruptive Equity ini sudah diluncurkan oleh BPAM sejak Desember 2021 dan akan tersedia di aplikasi Moduit pada Februari 2022. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement