Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Kemenkeu Pastikan Pemulihan Berjalan Meski IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi RI

Kamis 27 Jan 2022 03:42 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan kuatnya perekonomian Indonesia yang sudah terlihat di tahun ini dan berlanjut ke 2023 merupakan bukti bahwa penanganan pandemi berbuah signifikan pada relatif cepatnya pemulihan ekonomi Indonesia.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan kuatnya perekonomian Indonesia yang sudah terlihat di tahun ini dan berlanjut ke 2023 merupakan bukti bahwa penanganan pandemi berbuah signifikan pada relatif cepatnya pemulihan ekonomi Indonesia.

Foto: dok. Humas Kementerian Keuangan
Kemenkeu yakin kuatnya pertumbuhan ekonomi RI mulai terlihat tahun ini

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah memastikan pemulihan ekonomi nasional (PEN) pada tahun ini akibat pandemi Covid-19 terus berjalan. Hal ini menyusul Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6 persen pada 2022.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan kuatnya perekonomian Indonesia yang sudah terlihat di tahun ini dan berlanjut ke 2023 merupakan bukti bahwa penanganan pandemi berbuah signifikan pada relatif cepatnya pemulihan ekonomi Indonesia. 

Baca Juga

"Kebijakan penanganan pandemi dan PEN yang efektif pada 2021 dan diperkuat dengan fokus penciptaan tenaga kerja selain kesehatan dan perlindungan masyarakat pada 2022 tentunya menjadi faktor penting. Kita perlu jaga momentum pemulihan ke depan dengan tetap waspada terhadap berbagai risiko,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (26/1/2022).

Menurutnya beberapa risiko yang perlu diwaspadai antara lain potensi kemunculan varian baru Covid-19, isu disrupsi suplai dan volatilitas harga energi yang memberi ketidakpastian pada tingkat inflasi, risiko pada stabilitas keuangan negara berkembang.  Selain itu, normalisasi kebijakan moneter negara maju dengan menaikkan suku bunga, tensi geopolitik yang masih tinggi, dan isu perubahan iklim juga menjadi risiko-risiko yang perlu diwaspadai ke depan.

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Januari 2022 tersebut, IMF juga memberikan beberapa rekomendasi penguatan kerangka kebijakan yang komprehensif untuk negara-negara, yaitu memperkuat kebijakan di sektor kesehatan, termasuk pemerataan vaksin. 

IMF juga merekomendasikan perubahan kebijakan moneter yang harus didukung dengan komunikasi yang efektif, memperkuat posisi dan kesinambungan fiskal, memperkuat kerja sama internasional, dan melanjutkan reformasi struktural dan kebijakan perubahan iklim.

Adapun pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 yang belum dirilis pemerintah, Febrio menyebut akan berada kisaran 3,5 persen sampai empat persen, dengan mempertimbangkan kondisi terkini dari pergerakan mobilitas dan indikator-indikator dari sisi konsumsi dan produksi yang terus menunjukkan penguatan. 

"Outlook pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia pada kuartal IV 2021 berada pada angka yang lebih optimis sebesar 5,1 persen sesuai dengan kondisi terkini yang menunjukkan pemulihan yang kuat," ucapnya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA