Selasa 24 Aug 2021 23:16 WIB

Kenaikan Harga Nikel Dorong Kinerja Bisnis PAM Mineral

Selama semester I 2021, penjualan bijih nikel PAM Mineral meningkat signifikan

Pekerja berada di dekat tungku pembakaran biji nikel (ilustrasi). Emiten bahan baku nikel, PT PAM Mineral Tbk (NICL) mencatatkan peningkatan kinerja operasional yang solid. Selama semester I 2021, penjualan bijih nikel perusahaan mengalami peningkatan yang signifikan karena didorong naiknya harga komoditas nikel.
Foto: ANTARA FOTO/Jojon
Pekerja berada di dekat tungku pembakaran biji nikel (ilustrasi). Emiten bahan baku nikel, PT PAM Mineral Tbk (NICL) mencatatkan peningkatan kinerja operasional yang solid. Selama semester I 2021, penjualan bijih nikel perusahaan mengalami peningkatan yang signifikan karena didorong naiknya harga komoditas nikel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Emiten bahan baku nikel, PT PAM Mineral Tbk (NICL) mencatatkan peningkatan kinerja operasional yang solid. Selama semester I 2021, penjualan bijih nikel perusahaan mengalami peningkatan yang signifikan karena didorong naiknya harga komoditas nikel.

Berdasarkan laporan keuangan in house Juni 2021, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 148 miliar, sedangkan pendapatan sepanjang 2020 sebesar Rp 188 miliar.

“Jika dibandingkan dengan kinerja 2020, pada semester I tahun ini, perusahaan telah mencapai 79 persen dari penjualan tahun lalu. Kami sangat optimis penjualan 2021 akan jauh diatas penjualan yang telah dicapai Perseroan tahun lalu," ujar Corporate Secretary NICL Suhartono dalam keterangan resmi, Selasa (24/8).

Dari sisi laba, perusahaan mencatatkan laba sebesar Rp 26,3 miliar atau naik signifikan jika dibandingkan dengan laba bersih semester I 2020 yang masih mencatatkan kerugian sebesar Rp1,8 miliar. Kenaikan ini didorong oleh kenaikan volume penjualan dan kenaikan harga nikel.

Dari sisi sisi ekuitas, perusahaan mengalami kenaikan yang signifikan, dari sebelumnya sebesar Rp 106,7 miliar naik menjadi Rp 133,1 miliar atau naik sebesar 25 persen (ytd), disebabkan adanya lonjakan laba yang signifikan semester I 2021. Total aset Perseroan sebesar Rp 177 miliar per Juni 2021 relatif lebih rendah dari total aset pada Desember 2020  sebesar Rp 189,7 miliar atau mengalami penurunan sebesar tujuh persen(ytd).  

Namun dari sisi lain penurunan aset tersebut dibarengi dengan penurunan hutang perusahaan dari Rp 82,9 miliar pada Desember 2020 menjadi sebesar Rp 43,9 miliar per Juni 2021 atau turun sebesar 47 persen (ytd). “Dari sisi neraca, struktur permodalan Perseroan sangat solid dan didukung oleh pertumbuhan laba yang tinggi, Perseroan yakin dapat terus bertumbuh masa yang akan datang," ucapnya

Propek industri nikel dalam beberapa tahun ke depan masih sangat menarik karena kebutuhan bijih nikel dunia akan terus mengalami peningkatan seiring dengan tumbuhnya industri baterai untuk memenuhi kebutuhan mobil listrik di seluruh dunia. Dari sisi lain, Indonesia sebagai salah satu produsen bijih nikel tentunya sangat diuntungkan dalam bisnis ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement