Minggu, 18 Zulqaidah 1440 / 21 Juli 2019

Minggu, 18 Zulqaidah 1440 / 21 Juli 2019

KPR Gaes, KPR untuk Milenial

Kamis 20 Jun 2019 09:15 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Friska Yolanda

Pembangunan rumah subsidi di kawasan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/10).

Pembangunan rumah subsidi di kawasan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/10).

Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
KPR Gaes memberikan kemudahan bagi milenial dengan down payment satu persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur PT Bank Tabungan Negara (BTN) Maryono mengatakan, guna menyambut kebutuhan hunian kalangan milenial yang terus meningkat, pihaknya menyediakan skema Kredit Perumahan Rakyat (KPR) yang memudahkan milenial mendapatkan rumah. Melalui KPR Gaes, salah satu kemudahan yang diberi adalah adanya down payment (DP) 1 persen. 

Dia menjelaskan, KPR Gaes didesain cukup fleksibel untuk kalangan milenial dari pertimbangan berbagai aspek. Beberapa kemudahan yang diberi antara lain kemudahan pengajual aplikasi awal KPR (KPA), terjangkaunya DP, serta terjangkaunya biaya provinsi dan administrasi. 

Baca Juga

"Bahkan untuk yang mau nabung DP-nya, itu bisa," kata Maryono dalam Housing Forum Indonesia, di Jakarta, Rabu (19/6).

Adapun keunggulan utama dalam skema tersebut, kata dia, adalah adanya biaya proses KPR dalam plafon kredit dan nasabah yang tidak perlu mengendapkan dana di rekening. Sedangkan, suku bunga kredkt yang diberikan hanya 8,25 persen selama dua tahun. Dia menjelaskan, pihaknya juga memberikan diskon serta biaya provisi dan administrasi sebesar 50 persen. Biaya proses tersebut nantinya akan dimasukkan ke dalam plafon kredit.

Pengamat generasi milenial, Yuswohady mengatakan, kalangan mienial merupakan kelompok kalangan yang secara finansial paling tidak mapan sementara harga hunian terus meningkat. Berdasarkan catatan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bank Indonesia, kenaikan harga hunian mencapai 39,7 persen. Sedangkan, lebih dari 50 persen proporsi pengeluaran kalangan milenial yang sudah berkeluarga di 17 kabupaten dan kota ditujukan kepada konsumsi, bukan kepada pemenuhan kebutuhan hunian.

"Milenial yang sudah bekerja, rata-rata gaji mereka juga tidak besar. Hal ini bikin mereka lebih kritis, cari-cari hunian yang sesuai dengan budget," kata dia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA