Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Gaya Hidup Milenial, Antara Gila Belanja dan Investasi

Rabu 19 Jun 2019 13:57 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda

Manajemen keuangan dan investasi (ilustrasi).

Manajemen keuangan dan investasi (ilustrasi).

Foto: Republika/Prayogi
Milenial jangan hanya manfaatkan platform digital untuk belanja tapi juga investasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyaknya promo dari berbagai teknologi finansial (fintech) payment membuat generasi milenial cenderung konsumtif bahkan boros dalam mengatur keuangannya. Demi memenuhi gaya hidup hedon akibat banyak jajan, milenial kini terdorong untuk melek investasi.

Seperti Lita Aprilia (25 tahun), karyawati perusahaan swasta, yang mengaku kapok banyak jajan akibat promo dari e-commerce dan fintech pembayaran. “Fungsi OVO dan GO-PAY buat saya kalau ada promo saja. Sudah taubat saya hidup hedon,” ujar Lita, pekan lalu.

Baca Juga

Lita biasanya menggunakan GO-PAY dan OVO untuk berbelanja atau membayar transportasi online. Namun gaya hidup yang cenderung jadi lebih konsumtif karena banyak jajan, membuatnya berupaya untuk berhemat dengan mengurangi berbelanja dari kedua aplikasi tersebut. 

Mulai awal tahun ini, ia belajar mengenai investasi dan secara rutin menabung 15 persen penghasilannya. Tak hanya mendorong generasi melek teknologi untuk lebih konsumtif, fintech dan e-commerce juga mendorong pengguna untuk berinvestasi dengan cara mudah. Lita mengetahui soal investasi reksa dana karena dia hobi berbelanja di Tokopedia, dan e-commerce tersebut menawarkan investasi reksa dana yang imbal hasilnya bisa dicek setiap hari.

“Dulu menabung bank biasa, sebelum baca artikel tentang investasi reksa dana dan saham, ternyata return-nya (bank) kecil,” kata Lita.

Meski nilainya masih kecil, ia berupaya rutin untuk menabung di reksa dana saham dan pasar uang setiap bulannya. Dia mengaku sudah mulai mencari-cari informasi mengenai imbal hasil investasi, dan sejauh ini reksa dana saham dinilai masih paling menguntungkan untuk dana yang dia punya. Nantinya setelah berbagai cicilan telah lunas, Lita bertekad menaikkan porsi investasi menjadi 40 persen dari total penghasilannya.

Caroline Margaretha (28 tahun) juga mengaku baru mulai melek investasi karena seringnya berbelanja di e-commerce. Pegawai di rumah sakit swasta ini sebelumnya tidak pernah berinvestasi dan hanya menabung di bank. Adanya iklan di e-commerce langganannya membuatnya tertarik untuk menabung emas pada awal tahun ini.

Dia menilai investasi emas masih paling aman untuk investor pemula sepertinya, karena harga emas cukup stabil. Untuk membiasakan berinvestasi dan mencegah lupa, ia memanfaatkan fitur auto debit dari saldo OVO di Tokopedia. Dia selalu mengisi saldo OVO untuk menggunakan Grab. Dengan fitur auto debit, setiap dua pekan sekali dananya di OVO akan langsung ditarik dengan jumlah yang ditentukan untuk menabung emas.

"Lebih gampang (investasi di e-commerce). Tapi saat ini masih itu dulu (nabung emas)," kata Caroline.

Berbeda dengan kedua milenial tersebut, Annisa Rizkia Syaputri (28 tahun), melek investasi karena ia belajar S2 keuangan di Institut Teknologi Bandung (ITB) tiga tahun yang lalu. Materi kuliahnya memungkinkannya belajar untuk berinvestasi di berbagai produk keuangan seperti saham, obligasi, dan reksa dana. 

Untuk memenuhi hobi jajannya, Annisa merasa harus pintar mengatur keuangannya. Dia menjatuhkan pilihannya pada produk-produk keuangan berbasis syariah yang dinilainya lebih aman, dan berinvestasi di marketplace reksa dana Bareksa.

"Di Bareksa investasinya juga dipisah-pisah sesuai keperluan. Misalnya untuk liburan, investasinya di reksa dana pasar uang yang walaupun return-nya kecil tapi stabil," jelas Annisa.

Mengacu data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi pembayaran digital atau uang elektronik mencapai Rp 47,19 triliun sepanjang 2018. Angka itu meningkat empat kali lipat dibandingkan nilai transaksi tahun sebelumnya, yang sebesar Rp 12,37 triliun.

Hasil riset Morgan Stanley 2018 juga menyebutkan bahwa kedua fintech tersebut mendorong gaya hidup konsumtif di Indonesia. Dari 1.582 responden, 20 persen di antaranya lebih memilih menggunakan layanan pembayaran digital dari perusahaan fintech dibanding milik bank, perusahaan telekomunikasi, atau e-commerce. Rata-rata transaksi melalui pembayaran digital mencapai Rp 600 ribu per bulan.

Jumlah kenaikan transaksi digital ditopang oleh layanan dompet digital fintech seperti GO-PAY dan OVO. Hal ini terbukti dari pertumbuhan transaksi digital menggunakan layanan tekfin mencapai 55 persen dalam satu tahun terakhir.

Berdasarkan laporan Fintech 2018 Daily Social, fintech pembayaran di Indonesia didominasi oleh GO-PAY, dengan sekitar 79,4 persen dari 1.914 responden menggunakan fintech pembayaran tersebut. Kemudian disusul oleh OVO yang digunakan oleh 58,4 persen responden. 

Meskipun saat ini sudah banyak milenial yang melek investasi, tidak dipungkiri bahwa para milenial masih cenderung konsumtif dengan penggunaan berbagai platform pembayaran digital. Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie memberi tips agar dapat memanfaatkan fintech untuk investasi ketimbang konsumsi. Dia menyarankan, agar lebih efektif, investasi harus dilakukan di awal gajian.

"Tentukan porsi misal Rp 100 ribu per bulan atau pakai persen, misal 10 persen dari gaji," saran Prita.

Alokasi untuk kebutuhan biaya hidup ditetapkan juga di awal bulan untuk bujet selama 1 bulan. Adanya fitur debit otomatis di platform e-commerce dan fintech disarankan untuk dimanfaatkan, agar investasi pun bisa rutin dilakukan dan tidak terlupakan. 

Selain itu, penggunaan fintech pembayaran juga dapat membuat hemat apabila menggunakan promo dan cashback. "Promo dan cashback boleh saja, tapi jangan mengambil porsi investasi," kata Prita. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA