Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Rupiah Menguat Seiring Data Inflasi Mei

Senin 10 Jun 2019 18:08 WIB

Red: Friska Yolanda

Nilai tukar rupiah terhadap dolar. Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Jumat (1/3).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar. Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Jumat (1/3).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Peningkatan peringkat dari S&P menjadi pendorong penguatan rupiah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menguat seiring rilis data inflasi Mei 2019. Rupiah menguat 19 poin atau 0,13 persen menjadi Rp 14.250 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.269 per dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, bagi negara berkembang seperti Indonesia, inflasi tinggi adalah sebuah setelan tetap (default setting). Sebab, permintaan terus tumbuh sementara industri domestik masih mencari bentuk terbaik. Artinya pasokan yang tersedia niscaya belum mampu memenuhi permintaan yang terus naik.

"Jadi, inflasi rendah adalah sebuah berkah karena pertanda permintaan yang tumbuh mampu dipenuhi oleh sisi penawaran. Sisi pasokan Indonesia semakin baik, dunia usaha semakin mampu untuk menyesuaikan irama permintaan konsumen," ujar Ibrahim, Senin (10/6).

Selain itu, lembaga pemeringkat S&P pada Jumat (31/5) menaikkan peringkat surat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan proyeksi (outlook) stabil. Ini masih jadi katalis positif bagi rupiah.

"Keputusan ini membuat investor makin yakin untuk berinvestasi di aset-aset berbasis rupiah ,terutama obligasi, karena kemungkinan gagal bayar semakin kecil," katanya.

Dari eksternal, rilis data Non Farm Payroll AS pada Mei yang tercatat 75 ribu, lebih rendah dari perkiraan sebesar 185 ribu, mengindikasikan bahwa penciptaan lapangan kerja di AS melambat dan memberi indikasi perlambatan ekonomi AS.

"Selain itu, rilis data tenaga kerja AS tersebut mendorong pelemahan dolar AS yang diikuti juga oleh penurunan yield UST, mengingat ekspektasi pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga Fed mulai meningkat seiring dengan ekspektasi perlambatan ekonomi AS pada tahun ini," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat Rp 14.240 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp 14.240 per dolar AS hingga Rp 14.255 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Senin ini menunjukkan, rupiah menguat menjadi Rp 14.231 per dolar AS dibandingkan dengan hari sebelumnya di posisi Rp 14.385 per dolar AS.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS, the Fed. IHSG ditutup menguat 80,49 poin atau 1,3 persen ke posisi 6.289,61. 

"Indeks hari ini (Senin) kembali ditutup menguat didorong oleh sentimen dari global, yaitu adanya ekspektasi penurunan suku bunga di AS. Selain itu, dinaikkannya peringkat utang kita dari BBB- ke BBB juga masih menjadi tambahan sentimen positif dari dalam negeri," kata analis Indopremier Sekuritas Mino di Jakarta, Senin.

Dibuka menguat, IHSG nyaman berada di zona hijau sepanjang hari hingga penutupan bursa saham. Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli asing bersih atau net foreign buy sebesar Rp 480,89 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 565.313 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 16 miliar lembar saham senilai Rp 12,75 triliun. Sebanyak 246 saham naik, 170 saham turun, dan 128 saham tidak bergerak nilainya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA