Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

Monday, 21 Syawwal 1440 / 24 June 2019

Aksi 22 Mei Picu Persepsi Investor Menurun

Rabu 22 May 2019 15:48 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya

Anggota Brimob memblokade massa yang berkumpul di atas jalan layang Slipi Jaya, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Anggota Brimob memblokade massa yang berkumpul di atas jalan layang Slipi Jaya, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Rupiah diperkirakan bergerak melemah ke range Rp 14.500-14.580 per dolar AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat menggelar aksi demonstrasi usai pengumuman hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Aksi sempat diwarnai sejumlah kericuhan hingga memakan korban. Hal ini pun turut memberikan dampak terhadap iklim investasi di Indonesia.

Baca Juga

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, mengatakan risiko politik membuat persepsi investor menurun. "Indikator jangka pendeknya terlihat dri kurs rupiah yang mengalami pelemahan dan IHSG yang terkoreksi sesi pembukaan hari ini," ujar Bhima, Rabu (22/5).

Bhima memperkirakan rupiah bergerak melemah ke range Rp 14.500-14.580 per dolar AS. Sedangkan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) menurun tipis di level 5.900-5.930.

Menurut Bhima, adanya gejolak politik yang memanas paska pilpres juga berpengaruh terhadap outlook ekonomi sepanjang 2019. Investor khususnya asing masih melakukan posisi hold atau menahan realisasi investasi langsung.

Sementara itu, Bhima memperkirakan tren FDI masih akan menurun tahun ini setelah di triwulan pertama 2019 hampir minus 1 persen. Imbas dari rendahnya investasi membuat pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan dibawah 5 persen.

Bhima menegaskan, ini kondisi yang harus diwaspadai. Menurutnya, investasi dan ekspor adalah motor penggerak utama yang diharapkan untuk pertumbuhan ekonomi selain konsumsi rumah tangga.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA