Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Thursday, 24 Syawwal 1440 / 27 June 2019

Pasar Terkoreksi, Kesempatan Investor Tentukan Fund Strategy

Kamis 16 May 2019 16:35 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda

Investor memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui ponsel pintar, Kamis (18/4).

Investor memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui ponsel pintar, Kamis (18/4).

Foto: Republika/Idealisa Masyrafina
Satu bulan terakhir, IHSG mengalami koreksi 5,2 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk cukup dalam selama sepekan lalu, hingga menghapus return yang telah dicatat sejak awal tahun ini. Momentum ini harus dapat disikapi oleh para investor sesuai dengan profil risikonya.

Berdasarkan data statistik dari Bursa Efek Indonesia (BEI), kapitalisasi pasar BEI turun 1,72 persen menjadi Rp 7.064 triliun per 10 Mei 2019, seiring dengan koreksi IHSG sebesar 1,74 persen menjadi 6.209 dari 6.319 pada akhir pekan lalu. Bahkan, dalam satu bulan terakhir terjadi penurunan sebanyak 5,2 persen.

Baca Juga

Menurut CEO Jagartha Advisors FX Iwan, penurunan diakhir pekan lalu ini disebabkan oleh faktor eksternal yaitu meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap perkembangan perang dagang Cina-Amerika Serikat dan juga meningkatnya tensi politik dalam negeri. "Bagi investor reksa dana, situasi ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk kembali memeriksa kembali portfolionya untuk menentukan aset alokasi dan fund strategy yang tepat dalam pemilihan produk-produk reksadana yang sesuai dengan karakteristik dan tujuan investasi investor," ujar Iwan melalui siaran pers, Kamis (16/5).

Terkait pelemahan IHSG di pertengahan kuartal kedua tahun ini, analisis dari Jagartha Advisors menyebutkan momentum ini pada dasarnya bisa disikapi investor sesuai dengan profil risikonya. Iwan juga menyatakan, target kinerja indeks sampai dengan akhir tahun masih atraktif, sehingga penurunan pasar saat ini bisa dijadikan momen yang baik untuk melakukan pembelian secara bertahap.

"Bagi yang profil risikonya tinggi, momen ini justru perlu dimanfaatkan oleh investor untuk menambah kepemilikan reksa dana (dollar cost averaging). Namun, untuk investor yang konservatif dan cenderung menghindari risiko, opsi yang bisa dilakukan saat ini adalah melakukan penyesuaian portfolio dengan memberikan bobot yang lebih besar pada reksa dana pasar uang, dengan pilihan fund yang memiliki kinerja di atas enam persen untuk periode satu tahun terakhir," jelasnya.

Jagartha Advisors menilai pihaknya berperan penting dalam memberikan masukan kepada para investor melalui para advisor di Bareksa Prioritas khususnya di momen krusial seperti ini. Iwan menyatakan dengan didukung oleh Jagartha Advisors, para advisor tersebut akan merekomendasikan kelas aset dan memilih reksa dana yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi melalui rangkaian seleksi pada daftar reksa dana yang ditawarkan melalui Bareksa Prioritas. 

"Misalnya saja, dari total 28 reksa dana saham yang direkomendasikan Bareksa Prioritas kepada investor, advisor akan melakukan review dan seleksi terhadap fund yang mempunyai portfolio yang diharapkan dapat menghasilkan kinerja lebih baik dibandingkan dengan indeks acuan IHSG," tutur Iwan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA