Senin, 19 Zulqaidah 1440 / 22 Juli 2019

Senin, 19 Zulqaidah 1440 / 22 Juli 2019

BI: Fed Kian Bersabar, Rupiah Makin Diminati

Jumat 26 Apr 2019 15:00 WIB

Red: Friska Yolanda

Karyawan memegang mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019).

Karyawan memegang mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Dengan Fed menahan suku bunga, investor makin tertarik menyimpan dana di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah akan stabil atau tanpa fluktuasi signifikan. Hal ini salah satunya disebabkan oleh derasnya suplai modal asing ke pasar, setelah The Fed yang kian bersabar dalam menaikkan suku bunga acuan AS.

Dengan The Fed yang akan mempertahankan suku bunga acuan, selisih suku bunga instrumen keuangan (differential interest rate) di negara berkembang, dan obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun kian melebar. Hal itu akan menambah ketertarikan investor untuk beralih ke instrumen di negara berkembang termasuk ke Indonesia karena imbal hasil yang ditawarkan lebih tinggi.

Baca Juga

"Perbedaan suku bunga antara Indonesia dengan treasury bill itu juga cukup menarik bagi investor asing untuk menanamkan dananya ke Indonesia," ujar Perry saat ditemui di Jakarta, Jumat (26/4)

Saat ini, obligasi pemerintah AS (treasury bill) bertenor 10 tahun memiliki imbal hasil 2,63 persen. Sementara. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun menawarkan imbal hasil di kisaran 7,7 persen.

Maka dari itu, Perry mengaku optimstis, pergerakkan nilai tukar rupiah akan lebih terkendali dengan terbantunya suplai valas untuk memenuhi kebutuhan valas di Indoensia. Adapun, sepanjang kuartal I 2019, modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai 5,5 miliar dolar AS.

"Kami meyakini nilai tukar rupiah akan tetep stabil. Inflow ke dalam surat berharga negara yang terus naik dan itu akan menambah suplai di pasar valas," ujar dia.

Bank Indonesia mengaku saat ini merujuk pada kajian bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuannya dalam dua tahun ke depan hingga 2020. Hal itu karena pertumbuhan ekonomi AS masih melambat menyusul menurunnya tingkat pendapatan di negara tersebut menurun dan terbatasnya stimulus fiskal. Selain itu, inflasi di AS juga tidak terlalu tinggi, yang menandakan permintaan belum menggeliat.

Meskipun BI mengaku rupiah akan stabil, data pasar menunjukkan rupiah mengalami tekanan dalam dua hari terakhir, meskipun koreksi masih terbatas. Hingga Jumat pukul 14.00 WIB, rupiah diperdagangkan di Rp 14.190 per dolar AS di pasar spot, sedikit menguat dari saat pembukaan perdagangan yang sebesar Rp 14.194 per dolar AS.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA