Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Bank Indonesia: Rupiah Masih Undervalue

Kamis 25 Apr 2019 16:52 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Karyawan memegang mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019).

Karyawan memegang mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Pada perdagangan hari ini kurs rupiah melemah ke posisi Rp 14.154 per dolar AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bank Indonesia menyatakan, nilai tukar rupiah terhadap mata yang dolar Amerika Serikat (AS) masih undervalue atau belum sesuai dengan fundamentalnya. Meskipun pergerakan rupiah cenderung stabil, otoritas moneter menilai rupiah belum kembali pada posisi yang tepat.

Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, Kamis (25/4) mencatat, rupiah dihargai Rp 14.154 per dolar AS, melemah dibanding perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp 14.112 per dolar AS. Di pasar spot, mengutip Bloomberg, hingga perdagangan sore hari, rupiah menguat 0,58 persen menjadi Rp 14.186 per dolar AS.

“Rupiah masih undervalue, memang saat ini (bergerak) stabil, tapi masih undevalue,” kata Perry dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (25/4).

Perry mengatakan, aliran modal asing yang masuk ke pasar saham maupun pasar surat berharga negara (SBN) sampai dengan Maret 2019 tercatat sebesar 5,5 miliar dolar AS. Selain itu, di sektor riil, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2019 mencapai 540 juta dolar AS, atau meningkat dibanding Februari yang sebesar 330 juta dolar AS.

Membaiknya kondisi aliran modal asing di portofolio dan surplus neraca pembayaan di sektor riil menopang nilai tukar rupiah untuk tidak fluktuatif. Perry mengatakan, memasuki kuartal kedua 2019, aliran modal asing masih dalam prospek yang positif.

Namun, kata Perry, kuartal kedua juga merupakan waktu pembayaran pokok surat utang negara. Secara umum, hal tersebut bakal meningkatkan permintaan dolar sehingga nilai rupiah akan terdampak. Karena itu, BI menempuh kebijakan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI 7DRR) di level 6 persen.

Kebijakan tersebut, untuk memperkuat stabilitas eksternal perekonmian Indonesia. “Stance kebijakan suku bunga masih tetap ketat. Nilai tukar rupiah akan stabil dengan mekanisme pasar yang tetap terjaga baik,” kata Perry.

Meski rupiah disebut masih belum sesuai dengan fundamentalnya, Perry tidak menjelaskan berapa level rupiah saat ini yang dinilai ideal. Otoritas, kata Perry, terus memperkuat kebijakan untuk mendukung momentum pertumbuhan ekonomi agar prospek perekonoman ke depan menjadi positif dan mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia.

Ia memprediksi, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini diperkirakan mendekati 5,2 persen. Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama didorong oleh peningkatan konsumsi dalam negeri imbas gelaran Pemilu 2019.

Baca Juga

“Dengan prospek ekonomi yang lebih baik tentu saja itu akan memberikan suatu ekspektasi bahwa menanamkan modal di Indonesia semakin lebih baik,” ujar Perry.

Adapun indikator makro ekonomi yang lain masih menunjukkan tren yang positif. Inflasi misalnya, pada Maret 2019 tercatat sebesar 0,11 persen secara bulanan atau 2,48 persen secara tahunan. Inflasi yang terkendali itu dipengaruhi oleh inflasi kelompok inti yang melambat, yakni harga pangan bergejojak atau volatile foods yang justru mengalami deflasi.

Sementara, kelompok harga-harga yang diatur pemerintah atau adminsterd prices cenderung naik didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara. BI, kata Perry akan tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik pusat dan daerah. Termasuk, koordinasi pengendalian inflasi menjelang masuknya bulan suci Ramadhan. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA