Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Indonesia Tinggalkan Jebakan Kelas Menengah pada 2034

Kamis 18 Apr 2019 18:50 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Friska Yolanda

Aktivitas ekspor impor.

Aktivitas ekspor impor.

Foto: bea cukai
Indonesia diprediksi menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi ke-5 di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro memprediksi, manfaat bonus demografi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai puncaknya pada 2030. Indonesia juga diprediksi akan meninggalkan middle income trap dan menjadi ekonomi tinggi pada 2034. Pada 2045, 100 tahun setelah kemerdekaan, Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat.

Bambang mengatakan, World Economic Forum pada 2017 bahkan memprediksi Indonesia sebagai kontributor pertumbuhan ekonomi dunia terbesar kelima setelah China, Amerika Serikat, India, dan Euro Zone. "Dalam periode 2017-2019, ekonomi global akan berkembang sebesar 6,5 triliun dolar AS, di mana Indonesia berkontribusi sebesar 2,5 persen terhadap perkembangan tersebut," ujarnya melalui siaran pers yang diterima Republika.co.id, Kamis (18/4). 

Baca Juga

Prediksi tersebut disampaikan Bambang saat menghadiri Breakfast Meeting bertajuk Sustainable Development Goals (SDGs) Investment Opportunities in Indonesia: Infrastructure and Social Sectors yang diselenggarakan di New York, Amerika Serikat, Selasa (16/4). Kini, Indonesia juga telah bergabung dalam the Trillion Dollar Club Countries, yakni sebutan bagi negara dengan Produk Domestik Bruto di atas 1 triliun dolar AS per tahun. Dalam lingkup tersebut, Indonesia bersanding dengan Korea Selatan, Rusia, Spanyol, Australia, dan Mexico.

Mengacu pada besarnya PDB, Indonesia menempati peringkat ke-16 sehingga menjadi anggota negara-negara G20. Dalam hal kemudahan melakukan bisnis atau Ease of Doing Business (EoDB), Bambang menuturkan, Indonesia telah menunjukkan kenaikan yang sangat signifikan. "Fakta tersebut terlihat dari peringkat Indonesia yang melesat sebesar 34 basis poin, dari 106 ke-72  dalam kurun waktu dua tahun saja atau 2016-2018," tuturnya.

Bambang mengatakan, beberapa perubahan paling signifikan adalah Indonesia telah memperbaiki iklim bisnis, mengurangi prosedur perizinan dan mengimplementasikan sistem layanan daring. Selain itu, juga mengurangi regulasi yang tumpang tindih dengan melaksanakan manajemen risiko terintegrasi. 

Sejumlah agensi pemeringkat kredit seperti Japan Credit Rating, Moody, S&P, Fitch bahkan telah memberikan Indonesia peringkat stabil dalam hal investment grade. Menurut Bambang, peringkat tersebut telah melebihi target investasi di Indonesia. Investasi di kuartal keempat pada 2018 naik tujuh persen apabila dibandingkan pada periode yang sama di tahun lalu. Meskipun, total investasi dari Januari hingga Desember 2018 hanya naik sedikit, yaitu sebanyak 4,1 persen.

Bambang mengatakan, rasio utang Indonesia pun masih lebih baik dari rata-rata negara lain dengan kapasitas yang sama, yakni senilai 37,7 persen. Indonesia juga telah berkomitmen untuk memperbaiki iklim bisnis sejak 2015. Beberapa usaha yang telah dilakukan, di antaranya adalah implementasi One Stop Service yang mengintegrasikan layanan 21 kementerian/lembaga,  serta implementasi One Single Submission untuk perizinan investasi. 

Bambang menilai, Indonesia sangat serius dalam menerapkan pembangunan dengan prinsip berkelanjutan. Sebab, target dan indikator Sustainable Development Goals (SDGs) tak hanya menyasar pada pembangunan fisik semata, juga pembangunan sosial, manusia, budaya, dan lingkungan. "Bukti keseriusan Indonesia salah satunya dibuktikan dengan nilai proyek pembangunan berkelanjutan Indonesia atau Indonesia's Sustainable Development Project 2018-2020 yang tercatat senilai 31,460 juta dolar AS," ucapnya. 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA