Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Sunday, 21 Ramadhan 1440 / 26 May 2019

Menkeu: Usai Pemilu, Keyakinan Pasar Kembali

Rabu 17 Apr 2019 19:23 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolanda

Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi suami Tony Sumartono beserta anaknya Lukman Indra Pambudi Sumartono menyalurkan hak pilihnya dalam Pemilu 2019 di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 077 RT 02 RW 10 Jalan Mandar Bindari Jaya Sektor 3A, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi suami Tony Sumartono beserta anaknya Lukman Indra Pambudi Sumartono menyalurkan hak pilihnya dalam Pemilu 2019 di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 077 RT 02 RW 10 Jalan Mandar Bindari Jaya Sektor 3A, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.

Foto: Republika/Novita Intan
Sesudah pemilu, orang akan fokus ke pemerintah terpilih.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 telah usai dilaksanakan secara serentak di Indonesia. Penyelesaian momen lima tahun sekali ini telah ditunggu oleh para pelaku investor, lantaran menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan Indonesia.

Para pelaku usaha hingga investor mengambil sikap wait and see saat pelaksanaan pemilu. Hal tersebut diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani usai pencoblosan di kawasan Bintaro, Rabu (17/4).

Baca Juga

“Kita optimistis bisa mengembalikan keyakinan (confidence) bagi para investor, berharap sesudah pemilu orang akan fokus ke pemerintah yang terpilih dan menjalankan programnya,” ujarnya.

Menurutnya masyarakat akan melihat kebijakan yang akan dibuat pemerintah terutama masalah struktural seperti pendidikan, produktivitas hingga daya kompetisi Indonesia pada era industri 4.0. “Berharap (pemerintah terpilih) bisa meng-address isu-isu yang selama ini menjadi konsen masyarakat mengenai tata kelola, transparansi, korupsi. Semua penting karena masyarakat memerlukan confidence untuk tetap terjaga dan dijaga siapapun yang terpilih,” ucapnya.

Menurutnya hal penting bagi pemerintah terpilih untuk menjadi situasi tetap kondusif. Sebab bagi dunia usaha ada dua hal yang paling dibutuhkan yakni kebijakan yang responsif terhadap kondisi dalam negeri dan kebijakan yang antisipatif terhadap kondisi global.

“Ini selalu kombinasi keduanya. Dalam negeri seperti apa fundamental perlu diperbaiki apakah infrastruktur, SDM, tata kelola, birokrasi. Juga sisi masalah antisipasi global di mana sudah akan mulai mengalami pelemahan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Sri Mulyani mengingatkan pada tahun ini memiliki tantangan berbeda. Dia pun memastikan perekonomian Indonesia masih dapat bermanuver di hadapan turbulensi ekonomi global.

"Kita juga harus menjaga agar space fiskal dan moneter kita memiliki ruang yang cukup untuk mengantisipasi apapun yang terjadi di dunia," ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA