Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Menko Darmin: Struktur Neraca Dagang Masih Perlu Perbaikan

Jumat 15 Mar 2019 15:18 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Aktivitas ekspor impor

Aktivitas ekspor impor

Foto: Republika/Prayogi
Keseimbangan antara ekspor dan impor belum sepenuhnya dalam posisi yang ideal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, menilai, struktur neraca perdagangan Indonesia sepanjang Februari 2019 belum sepenuhnya positif. Kendati Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan surplus sebesar 0,33 miliar dolar AS, Darmin menganggap kondisi itu belum tentu akan berkelanjutan.

“Kita belum melihat, kita bisa membuat hasil-hasil yang sudah bisa jadi pegangan bahwa situasinya secara berkelanjutan. Kelihatannya, kerja keras masih belum cukup,” kata Darmin di Kantor Kemenko Perkonomian, Jumat (15/3).

Baca Juga

Menurut Darmin, keseimbangan antara ekspor dan impor belum sepenuhnya dalam posisi yang ideal. Posisi surplus dagang yang terjadi pada bulan lalu bukan karena ekspor lebih besar daripada impor. Namun, keduanya sama-sama turun, hanya saja, penurunan impor jauh lebih besar.

Mengacu laporan BPS, nilai ekspor per Februari 2019 mencapai 12,53 miliar dolar AS, turun 10,03 persen dari posisi Januari 2019 sebesar 13,92 miliar dolar AS. Sedangkan nilai impor di bulan yang sama mencapai 12,20 miliar dolar AS, turun 18,61 persen dari bulan Januari sebesar 14,93 miliar dolar AS. Dengan kata lain, nilai surplus perdagangan mencapai 0,33 miliar dolar AS.

Lebih lanjut, Darmin mengatakan, kinerja yang surplus itu jangan sampai mempengaruhi pertumbuhan perdagangan luar negeri Indonesia. Dari sisi ekspor, kata Darmin, negara tujuan ekspor berubah. Hal ini dinilai karena situasi dunia yang masih belum pulih dan terus dinamis.  

Sementara itu, kinerja impor juga menurun drastis. Terutama untuk impor bahan baku penolong dan barang modal. Kedua kelompok impor itu masing-masing menurun 21,11 persen dan 7,09 persen dibanding Januari 2019. Padahal, impor bahan baku dan barang modal berkaitan erat dengan kegiatan produksi industri dalam negeri.

“Kita masih perlu bekerja keras lagi untuk membuat satu neraca perdagangan dan transaksi berjalan yang konsisten dan lebih baik,” ujar Darmin.

Ke depan, kata Darmin, tugas pemerintah bukan sebatas mendorong kinerja ekspor lebih kuat lagi. Namun, juga menjaga impor agar tidak merosot terlalu tajam. Khususnya, untuk bahan baku dan barang modal. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA