Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Gubernur BI Optimistis Rupiah Menguat pada 2019

Selasa 29 Jan 2019 16:31 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Friska Yolanda

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (17/1/2019).

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (17/1/2019).

Foto: Antara/Aprillio Akbar
Kepercayaan global pada ekonomi Indonesia semakin baik terutama sejak kuartal IV 2018

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimis nilai tukar rupiah pada 2019 memiliki potensi menguat. Dia juga memproyeksikan, kondisi global akan lebih baik dibandingkan tahun lalu. 

"BI memandang bahwa nilai tukar ke depan bergerak stabil dan cenderung menguat," kata Perry di kantor Kemenkeu, Jakarta pada Selasa (29/1). 

Perry menjelaskan, faktor yang mendukung prediksi tersebut adalah kenaikan tingkat suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve lebih rendah dibandingkan tahun lalu. "Kalau tahun lalu empat kali, tahun ini paling banter dua kali sehingga kondisi global juga lebih baik dari tahun lalu," kata Perry.

Faktor selanjutnya, ujar Perry, kepercayaan global pada ekonomi Indonesia semakin baik terutama sejak kuartal IV 2018. Hal itu terbukti dengan aliran modal asing yang masuk ke Indonesia baik melalui Penanaman Modal Asing (PMA) maupun portofolio. 

Dia menyampaikan, aliran modal asing dalam bentuk portofolio pada kuartal IV 2018 mencapai 12 miliar dolar AS. Kemudian, pada 2019 hingga pekan lalu, aliran dana asing yang masuk ke Indonesia berkisar Rp 19 triliun. 

"Dengan aliran modal asing masuk, akan menambah suplai pasar valas dan karenanya akan mendukung stabilitas dan penguatan rupiah," kata Perry. 

Kemudian, dari sisi fundamental ekonomi Indonesia juga lebih baik pada 2019. Hal itu ditandai dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi lebih tinggi serta inflasi, defisit fiskal, dan defisit neraca transaksi berjalan yang terjaga.

"Mekanisme pasar valas sudah semakin baik. Likuiditas yang terus bekerja, mekanisme pasar, suplai dan demand dalam penentuan nilai tukar semakin bagus," kata Perry. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA