Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Tren Rupiah Menguat, Apa Faktor Pendorongnya?

Selasa 20 Nov 2018 00:43 WIB

Red: Friska Yolanda

Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/11).

Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/11).

Foto: Republika/Prayogi
Sentimen dalam negeri masih kondusif akibat membaiknya data perekonomian Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  -- Penguatan mata uang rupiah terhadap dolar AS yang terjadi sejak awal November 2018 sedikit diluar perkiraan pengamat ekonomi maupun para pelaku pasar keuangan. Pergerakan rupiah yang tercatat sekitar Rp 15.200-an pada akhir Oktober 2018, tiba-tiba mencapai Rp 14.500 per dolar AS-Rp 14.600 per dolar AS pada pertengahan November, hanya dalam kurun waktu dua pekan.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan tiga penyebab nilai tukar rupiah menguat dalam waktu relatif cepat karena faktor eksternal maupun internal yang saling mendukung. Penyebab pertama adalah kepercayaan investor global yang meningkat karena membaiknya indikator ekonomi domestik seperti realisasi pertumbuhan ekonomi domestik kuartal III 2018 serta laju inflasi tahun ke tahun (yoy) sebesar 3,16 persen hingga Oktober 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen tahun ke tahun (yoy), yang utamanya didorong oleh kinerja konsumsi rumah tangga. Perry menilai pasar merespons positif perbaikan data pertumbuhan ekonomi yang masih di atas lima persen dalam kondisi yang masih diliputi ketidakpastian serta laju inflasi yang masih berada di bawah sasaran 3,5 persen.

Penyebab kedua adalah pemberlakukan pasar valas berjangka untuk domestik atau Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang baru diterbitkan oleh bank sentral dan efektif sejak 1 November 2018 untuk menjaga pergerakan rupiah. Perry mengklaim pasokan dan permintaan di pasar DNDF sudah berjalan baik dengan total transaksi selama sembilan hari berjalan mencapai 115 juta dolar AS.

Baca juga, Rupiah Melanjutkan Penguatan

Sebagai gambaran, sesuai tujuannya, pemberlakuan DNDF dapat membuat pasar keuangan domestik berkembang sehingga pasar NDF di Luar Negeri menjadi kurang diminati. Sebelum terdapat DNDF, selama ini pasar NDF di Luar Negeri yang begitu volatil menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah di pasar domestik.

"Pemantauan kami soal DNDF berkembang dengan cukup baik. Pasokan dan permintaan berkembang sehingga menambah pendalaman pasar," kata Perry.

Penyebab ketiga adalah meredanya perang dagang antara AS dan Cina menyusul rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di perhelatan G20 pada akhir November 2018. Pertemuan pemangku kebijakan paling berpengaruh di dunia tersebut diklaim untuk membahas solusi perang dagang antara dua negara yang telah terjadi sejak awal tahun dan telah ditunggu oleh seluruh pelaku keuangan global.

Kondisi penguatan rupiah ini juga didukung oleh masuknya aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia sejak awal November 2018 yaitu mencapai Rp 19,9 triliun. Modal asing tersebut masuk melalui portfolio Surat Berharga Negara (SBN) Rp 14,4 triliun dan saham Rp 5,5 triliun. Perry memastikan aliran modal asing kepada obligasi pemerintah maupun saham tersebut telah memperlihatkan adanya kepercayaan dari investor global terhadap kinerja perekonomian Indonesia.

Baca juga, Respons Pasar Terhadap DNDF Bawa Rupiah Menguat

Tingkatkan kewaspadaan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan fenomena penguatan rupiah merupakan hal yang baik ketika negara berkembang, termasuk Indonesia, rentan terhadap penguatan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat. Untuk itu, pergerakan rupiah yang berada dalam tren positif ini harus dipertahankan melalui berbagai upaya. Salah satu upayanya adalah dengan terus mengkomunikasikan kepada pelaku pasar keuangan bahwa indikator perekonomian Indonesia dalam keadaan terjaga dan stabil.

Selama ini, pemerintah telah berupaya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi diatas lima persen, laju inflasi rendah serta meningkatkan kesempatan kerja dan menekan tingkat kemiskinan. Selain itu, penguatan fundamental perekonomian telah dilakukan dengan mendorong investasi berbasis ekspor dan subtitusi impor serta menggunakan barang dalam negeri agar defisit neraca transaksi berjalan (CAD) dapat mengecil.

Untuk mengundang investasi dan mengurangi konsumsi barang impor, pemerintah telah membenahi sistem layanan perizinan terintegrasi (OSS) serta menyesuaikan tarif PPh impor barang konsumsi dan mewajibkan penggunaan konsumsi biodiesel (B20). "Kita akan tetap fokus menjaga, agar CAD tetap bisa kita kelola, karena itu adalah salah satu sumber yang dapat menimbulkan persepsi terhadap perekonomian Indonesia," kata Sri Mulyani.

Baca juga, Turunkan CAD, BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 6 Persen

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, sentimen global terkait normalisasi kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) dapat terus membayangi pergerakan rupiah. Selama The Fed masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga, maka pergerakan dolar AS terus berpotensi meningkat dan menganggu stabilitas mata uang di negara berkembang.

Kendati demikian, Reza memproyeksikan potensi terjadinya kembali depresiasi rupiah, masih terbatas. Pasalnya, sentimen dalam negeri masih kondusif akibat membaiknya data perekonomian Indonesia.

Untuk itu, kesempatan ini merupakan momentum dari perbaikan defisit neraca transaksi berjalan guna meningkatkan daya tahan stabilitas rupiah agar tidak rentan dari tekanan eksternal hingga beberapa tahun mendatang.

Pemerintah juga telah mengantisipasi terjadinya gejolak mata uang pada 2019, yang dipicu oleh kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga The Fed tahun depan dan ketidakpastian dari perang dagang. Hal tersebut terlihat dari penetapan asumsi nilai tukar sebesar Rp 15.000 per dolar AS dalam APBN 2019 dengan mempertimbangkan risiko global yang dapat memicu pergerakan arus modal kembali ke negara maju.

Penetapan ini ikut memperhatikan usulan Bank Indonesia yang memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah pada 2019 berada pada kisaran Rp 14.500 per dolar AS-Rp 15.200 per dolar AS. Melalui penyusunan APBN yang realistis dan kredibel, pemerintah bersama Bank Indonesia telah menyiapkan mitigasi fiskal untuk mengantisipasi ketidakpastian global yang dapat terjadi tahun depan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA