Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

OJK Kembangkan Kebijakan Berbasis Riset

Ahad 14 Oct 2018 12:58 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Para pembicara di OJK Internasional Research Seminar Financial Sector Development and The Future of Finance di Jimbaran, Bali, Ahad (14/10).

Para pembicara di OJK Internasional Research Seminar Financial Sector Development and The Future of Finance di Jimbaran, Bali, Ahad (14/10).

Foto: ojk
Riset memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan.

REPUBLIKA.CO.ID, JIMBARAN -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengembangkan kebijakan berbasis penelitian. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan penelitian memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini terutama berlaku untuk pembuat kebijakan seperti pemerintah dan otoritas, karena dampak dari kebijakan yang diterapkan akan dirasakan oleh banyak pemangku kepentingan.

“Kebijakan yang diambil tanpa proses analitis yang tepat akan gagal untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan. Oleh karena itu, kebijakan yang diambil harus didukung penelitian komprehensif yang akan mengambil berbagai sudut. Setelah diuji dengan sukses dan didukung oleh penelitian, kebijakan kemudian siap untuk diimplementasikan. Inilah yang kami sebut sebagai kebijakan berbasis penelitian di OJK,” kata dia, saat membuka OJK Internasional Research Seminar Financial Sector Development and The Future of Finance di Jimbaran, Bali, Ahad (14/10).

Hadir dalam kesempatan ini Menkominfo Rudiantara dan sejumlah anggota Komisi XI DPR RI. Menurut Wimboh, kebijakan berbasis penelitian bahkan lebih relevan dalam mengkaji perkembangan teknologi yang semakin pesat di berbagai aspek termasuk di sektor keuangan atau fintech. Fintech bahkan telah mengubah proses bisnis melalui pemanfaatan teknologi informasi dan telekomunikasi yang juga maju pesat.

“Jika kita dapat melakukan penelitian yang benar dan komprehensif tentang fintech, kita akan menuai banyak manfaat termasuk meningkatkan inklusi keuangan, mengurangi kesenjangan ketidaksetaraan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

Namun, fintech bukan satu-satunya bidang yang perlu didukung oleh penelitian. OJK juga meneliti berbagai bidang lainnya, seperti keuangan berkelanjutan, lembaga keuangan syariah, lembaga keuangan non-bank, pendalaman pasar modal, dan lainnya.

Seminar riset yang digelar OJK di tengah pertemuan tahunan IMF – Bank Dunia. Seminar bertujuan untuk menampilkan hasil penelitian terkini dari berbagai universitas luar negeri dan riset OJK bersama universitas dalam negeri mengenai isu-isu sektor keuangan yang sedang berkembang pada saat ini. Topik-topik riset pada seminar ini mencakup keuangan digital, fintech, keuangan berkelanjutan serta pasar dan kelembagaan keuangan.

Sejumlah pembicara hadir menyampaikan pemikirannya yaitu, Sumit Agarwal dari National University of Singapore, Bejoy Das Gupta dari Syracuse and eCurrency, Dorothy Singer dari Bank Dunia, Tianyue Ruan dari National University of Singapore, Irwan Trinugroho dari UNS Indonesia, Ulrich Volz dari University of London, Poppy Ismalina dari UGM, Emilio Bisetti dari Hongkong University of Science and Technology, dan Deddy Koesrindartoto  dari ITB .

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA