Senin, 19 Zulqaidah 1440 / 22 Juli 2019

Senin, 19 Zulqaidah 1440 / 22 Juli 2019

JK: Manfaatkan Pelemahan Rupiah untuk Dorong Ekspor

Selasa 03 Jul 2018 12:52 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla

Foto: Republika TV/Fakhtar Khairon Lubis
Pelemahan rupiah tidak bisa hanya diatasi dengan menaikkan suku bunga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas terutama produk yang berorientasi ekspor. Dia menilai, pelemahan nilai tukar rupiah tidak bisa hanya diatasi dengan peningkatan suku bunga.

"(Pelemahan nilai tukar rupiah) itu tidak bisa diatasi hanya dengan meminjam tapi peningkatan ekspor, tidak bisa diatasi dengan peningkatan (suku) bunga tapi bagaimana produktivitas yang menghasilkan dolar itu diperbanyak," ujar Jusuf Kalla di Hotel Bidakara, Selasa (3/7).

Jusuf Kalla menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah memiliki dampak yang berbeda. Misalnya saja, di perkotaan pelemahan nilai tukar rupiah dapat menyebabkan harga barang-barang impor melonjak. Namun di daerah-daerah penghasil komoditas ekspor seperti sawit, batubara, kopi, cokelat, dan udang sangat menikmati kenaikan nilai tukar rupiah tersebut. Oleh karena itu, Jusuf Kalla mendorong agar pelemahan nilai tukar rupiah ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor sehingga cadangan devisa negara tetap terpenuhi.

"Rupiah melemah itu jangan lihat jeleknya saja, ada juga sisi positifnya, maka harus menggunakan sisi positif itu untuk meningkatkan ekspor," kata Jusuf Kalla.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (3/7) pagi bergerak melemah tujuh poin. Rupiah melemah menjadi Rp 14.397 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 14.390 per dolar AS.

Rupiah terus bergerak melemah. Hingga pukul 10.30 WIB, menjelang penutupan perdagangan siang, rupiah kembali mengalami depresiasi 39 poin menjadi 14.429 per dolar AS.

Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan depresiasi rupiah memang masih dominan dipengaruhi faktor eksternal. "Pelaku pasar masih mencermati perkembangan dari potensi terjadinya perang dagang antara AS dan Cina," ujar Reza.

Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga belum mampu terangkat oleh sentimen domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin merilis inflasi Juni 2018 yang tercatat sebesar 0,59 persen, lebih tinggi dari ekspektasi.

Dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Senin (2/7), tercatat nilai tukar rupiah bergerak menguat ke posisi Rp 14.331 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 14.404 per dolar AS.

Sebelumnya, pada akhir pekan lalu, meski laju suku bunga acuan telah dinaikkan sebesar 50 basis poin atau sesuai dengan keinginan pasar untuk meredam pelemahan rupiah lebih dalam, namun tidak banyak berimbas pada pergerakan rupiah yang hanya naik tipis.

Sama dengan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa dibuka melemah sebesar 9,42 poin menjadi 5.737,36. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 2,38 poin (0,26 persen) menjadi 899,71.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA