Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

BI Sebut Rupiah Masih Undervalue

Kamis 21 Feb 2019 23:32 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Dwi Murdaningsih

Karyawan memegang mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019).

Karyawan memegang mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Rupiah masih berpotensi menguat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Bank Indonesia (BI) menyebut nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir di kisaran Rp 14.000 per dolar AS masih terlalu murah (undervalue). BI mengindikasikan masih terdapat ruang penguatan bagi mata uang Garuda untuk waktu ke depan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah akan bergerak stabil sesuai mekanisme pasar pada tahun ini. “Nilai tukar rupiah akan tendering stabil tapi massif undervalue, sesuai mekanisme pasar,” ujarnya saat konferensi pers ‘RDG Februari 2019’ di Gedung BI, Kamis (21/2).

Baca Juga

Penguatan Rupiah berlanjut pada Januari 2019 yang mencapai 2,92 persen dan terus terjadi pada Februari 2019. Berdasarkan data JISDOR BI, hari ini Rupiah bergerak cukup stabil yakni berada di posisi Rp 14.057 per dolar AS, sedikit melemah dibandingkan kemarin yang berada di posisi Rp 14.055 per dolar AS.

"Tren penguatan Rupiah pada awal 2019 ditopang aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik seiring terjaganya fundamental ekonomi domestik dan tetap tingginya daya tarik aset keuangan domestik serta berkurangnya ketidakpastian pasar keuangan global," kata dia.

Sementara Pengamat Perbankan Paul Sutaryono menambahkan nilai tukar rupiah saat ini masih di level Rp 14.000 per dolar AS, artinya masih diterima pasar keuangan dan dunia bisnis. Kendati demikian, Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai nilai tukar rupiah masih berisiko melemah dalam jangka panjang selama Current Account Deficit (CAD) melebar kisaran 3 persen.

“Itu menandakan secara struktural ada ‘hantu’ yang menahan penguatan rupiah,” ucapnya ketika dihubungi Republika.co.id.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA