Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Perbarindo Nilai BPR tak akan Terlindas Fintech

Senin 18 Feb 2019 22:52 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Fintech ( Financial Technology)

Ilustrasi Fintech ( Financial Technology)

Foto: Republika/Mardiah
BPR memiliki segmentasi pasar khusus.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) optimistis, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) akan mampu bersaing di tengah maraknya kemunculan financial technology (fintech). Sebab, menurut Ketua Umum Perbarindo, Joko Suyanto, BPR memiliki segmentasi pasar khusus dan keunggulan layanan yang tidak bisa disamai fintech.

"BPR selama ini fokus menggarap pasar UMKM di daerah," ujar Joko  usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) Perbarindo Jabar dan Seminar Peran BPR terhadap Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Hotel El Royale, Bandung, Senin (18/2).

Menurut Joko, peran BPR akan sulit tergantikan oleh fintech. Ia pun, tidak menampik jika fintech juga berpotensi membidik pasar yang sama. Akan tetapi, BPR memiliki keunggulan layanan berupa pendampingan bagi debitur UMKM mereka.

"Kami tidak hanya memberikan kredit secara lepas. Debitur UMKM akan didampingi dan terus dimonitor," katanya.

Selain itu, kata dia, Perbarindo juga akan mendorong BPR untuk bertransformasi ke arah digital. Dengan demikian, BPR bisa menjangkau pasar generasi milenial yang kehidupannya erat dengan teknologi.

Saat ini, kata dia, seluruh BPR di Indonesia melayani sekitar 17 juta nasabah. Joko mengklaim, hampir seluruh nasabah BPR adalah pelaku UMKM dan sebagian besar berdomisili di daerah.

"Outstanding kredit UMKM seluruh BPR saat ini sekitar Rp 97 triliun. Kami menargetkan, tahun ini akan tumbuh 10 persen-13 persen year on year," katanya.

Joko optimistis, target pertumbuhan kredit tersebut akan tercapai. Apalagi di Jabar, yang ia nilai sebagai gudangnya pelaku usaha, termasuk UMKM.

Sementara menurut Chief Digital Startup, E-commerce & Fintech (DEF) Sharing Vision yang juga Co Chief Executive Officer (Co-CEO) Bandung Initiative Movement (BIM), Nur Islami Javad (Jeff) mengatakan, pertumbuhan fintech di Indonesia kian pesat. Bahkan, sejumlah fintech asing banyak yang mulai masuk membidik pasar Indonesia.

Berdasarkan data Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, nilai transaksi fintech di Indonesia pada 2018 diperkirakan mencapai Rp 234 Miliar. Pertumbuhan transaksinya sebesar 16,13 persen per tahun.

Adapun nilai total pendanaan yang diumumkan untuk startup fintech tahun ini sebesar 182,3 juta dolar Amerika Serikat (AS), setara dengan Rp 2,6 triliun.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA