Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Rantai Distribusi Panjang Sebabkan Harga Bahan Pokok Tinggi

Sabtu 16 Feb 2019 10:07 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolanda

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto seusai pelantikan Kepala BPS yang baru di Gedung Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Jakarta, Kamis (15/9).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto seusai pelantikan Kepala BPS yang baru di Gedung Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Jakarta, Kamis (15/9).

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Satu komoditas harus melalui dua hingga tiga rantai pasok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat salah satu penyebab tingginya harga beberapa bahan pokok disebabkan oleh rantai distribusi yang panjang. Selain membuat harga bahan pokok yang sampai ke masyarakat mahal, panjangnya rantai distribusi ini juga membuat pendapatan petani tidak sebesar dari harga yang beredar di pasaran.

Baca Juga

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan BPS melakukan survei untuk komoditas beras, daging ayam, dan bawang merah. Ia menjelaskan melalui MPP bisa diketahui berapa penambahan harga komoditas mulai dari produsen sampai ke konsumen atau pembeli. "Semakin panjang rantai distribusinya, maka semakin mahal harga komoditas tersebut," ujar Suhariyanto di Kantor BPS, Jumat (15/2).

Untuk beras misalnya, kata Suhariyanto, dari hasil survei yang dilakukan BPS tercatat margin perdagangan dan pengangkutan (MPP) total sebesar 25,35 persen dari harga yang berasal dari petani. Hal ini karena rantai distribusi beras perlu melalui tiga rantai, Produsen-Distributor-Pedagang Eceran baru ke konsumen.

"Dari produsen ke distributor MPP atau kenaikan harga beras tidak terlalu banyak, kemudian dari distributor ke pedagang harga beras telah naik 11,83 persen," ujar Suhariyanto.

Sedangkan untuk cabai merah, pola perdagangan juga melibatkan tiga rantai distribusi. Namun MPP-nya cukup besar dibandingkan beras. Tercatat, MPP cabai merah sebesar 47,10 persen.

"Cabai merah pola perdagangannya juga melibatkan tiga rantai distribusi yakni, produsen-pedagang grosir-pedagang eceran, dan konsumen, MPP-nya 47,10 persen, karena memang ini kan cepat membusuk," katanya.

Ia menjelaskan harga cabai bisa melonjak dari pedagang eceran ke konsumen. Kenaikannya bisa mencapai 24,16 persen. Sedangkan dari  produsen ke pedagang grosir, kenaikan harga cabai merah tidak terlalu banyak. Namun, dari pedagang grosir ke eceran, harga cabai sudah meningkat 18,48 persen.

Sedangkan untuk daging ayam ras hanya melibatkan dua rantai pasok. Namun MPP-nya sebesar 24,68 persen. "Untuk daging ayam ras, rata-rata hanya melibatkan dua rantai perdagangan, mulai dari produsen -pedagang eceran, dan langsung ke konsumen. MPP-nya 24,68 persen," ujar Suhariyanto.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA