Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

BI: Defisit Transaksi Berjalan Berpotensi Makin Melebar

Senin 11 Feb 2019 18:24 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Nidia Zuraya

Defisit Neraca Transaksi Berjalan

Defisit Neraca Transaksi Berjalan

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
BI menyebut tingginya pertumbuhan impor merupakan fakta yang harus diwaspadai

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARNEGARA -- Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Rosmaya Hadi mengingatkan kondisi defisit transaksi berjalan (current account deficit) yang berpotensi makin melebar. Hal itu disampaikan Rosmaya Hadi dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Departemen Regional 2 Bank Indonesia Dwi Pranoto, dalam acara Kick Off Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah di Desa Babadan Kecamatan Pagentan Kabupaten Banjarnegara, Senin (11/2).

Rosmaya menyebutkan, pertumbuhan ekonomi tahun 2018 tercatat mencapai 5,17 persen (yoy). Angka pertumbuhan ini dinilai pantas disyukuri, karena lebih tinggi dibanding selama 5 tahun terakhir. Tahun 2016 tercatat sebesar 5,03 persen, dan tahun 2017 meningkat menjadi 5,07 persen.

Namun dia juga mengingatkan, salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi tersebut antara lain disebabkan oleh tingginya pertumbuhan impor. Bagaimana pun, kata Rosmaya, kondisi ini merupakan fakta yang harus diwaspadai.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Rosmaya menyebutkan, tingkat pertumbuhan impor tahun 2018 mencapai 12,04 persen (yoy). Sementara pertumbuhan ekspor relatif landai, hanya mencapai 6,48 persen  (yoy).

''Untuk itu, hal yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan current account defisit (defisit transaksi berjalan) yang berpotensi semakin melebar,'' katanya.

Terkait hal ini, Rosmaya menyatakan, BI senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah dan dan otoritas terkait. Salah satu yang dilakukan BI, adalah mendorong ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dengan meningkatkan peran Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Dia menyebutkan, potensi pengembangan UMKM di Indonesia sebenarnya sangat luar biasa. Hal ini ditandai dengan jumlah UMKM yang sangat besar, mencapai sekitar 99,9 persen dari 56,5 juta unit usaha yang ada di Indonesia. Namun  dia menyebutkan, kontribusi UMKM Indonesia terhadap total ekspor hingga saat ini masih relatif rendah.

''Bahkan dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina yang kontribusinya mencapai double digit dalam ratuo total ekspor negaranya,'' katanya.

Mengutip data dari Kementerian Koperasi tahun 2017, Rosmaya menyebutkan, kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai sekitar 60 persen penyerapan tenaga kerja mencapai 97,02 persen. Namun terhadap kontribusi total ekspor nasional, baru tercatat 9,30 persen.

Berbagai kebijakan yang dilakukan BI dalam upaya pengembangan UMKM, antara lain dengan melakukan berbagai program pengembangan klaster UMKM. Seperti yang dilakukan Kantor Perwakilan BI Purwokerto, BI mengembangkan dua potensi lokal di Kabupaten Banjarnegara yaitu Modified Cassava Flour (Mocaf) dan Kopi.

''Kedua komoditas ini merupakan komoditas yang sangat potensial, baik sebagai komoditas ekspor maupun subtitusi impor,'' jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA