Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

Rekor Defisit Neraca Dagang, Ini Respons Istana

Rabu 16 Jan 2019 00:20 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Friska Yolanda

Aktivitas ekspor impor.

Aktivitas ekspor impor.

Foto: bea cukai
Capaian ekspor 2018 mendekati ekspor tahun 2012-2013.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Ahmad Erani Yustika, punya penjelasan mengenai latar belakang tingginya angka defisit neraca dagang tahun 2018. Menilik data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca dagang Indonesia sepanjang 2018 mengalami defisit sebesar 8,57 miliar dolar AS, terbesar sejak 1975. Ada beberapa hal yang menurut Erani ikut mendorong lebarnya angka defisit neraca perdagangan tahun 2018. 

Alasan pertama adalah dominasi faktor global. Erani mengutip penjelasan Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebutkan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina akan berimbas pada perekonomian negara-negara lain di dunia. Bagi Indonesia, kedua negara tersebut merupakan pasar utama ekspor, dengan porsi masing-masing 10 persen untuk AS dan 15 persen untuk Cina. Namun meski terimbas perang dagang, ekspor ke kedua negara tersebut masih tumbuh positif masing-masing tiga persen dan 14 persen. 

Alasan lainnya adalah fluktuasi harga minyak dunia. Erani menyebutkan, harga minyak dunia yang sempat menunjukkan tren kenaikan mau tak mau ikut menekan neraca perdagangan negara-negara importir minyak mentah. Meski begitu, BPS mencatat adanya tren penurunan nilai impor minak sejak November hingga Desember 2018.

Pada Desember 2018, mengacu pada data BPS, nilai impor minyak hanya 1,95 miliar dolar AS, atau masih lebih rendah dari Desember 2017. Erani yakin, kecenderungan penurunan harga minyak diprediksi membantu neraca perdagangan ke depan. 

Baca juga, Neraca Dagang Catat Hattrick Defisit 

"Secara umum, kebutuhan impor minyak dan gas cenderung menurun karena penggunaan B20. Realisasi volume impor minyak dan gas sepanjang 2018 sebesar 49,11 juta ton, turun dari 50,37 juta ton," jelas Erani, Selasa (15/1). 

Erani menambahkan, depresiasi rupiah terhadap dolar AS juga ikut menyumbang lebarnya defisit neraca perdagangan. Menurutnya, lonjakan nilai impor disebabkan oleh depresiasi rupiah yang membuat biaya impor semakin mahal. Namun sejak November 2018, ujarnya, rupiah sudah menguat dan akan berkontribusi terhadap perbaikan neraca perdagangan ke depan. 

Meski defisit neraca dagang yang tercatat pada 2018 adalah yang paling besar dalam kurun empat dekade terakhir, Erani mengingkatkan bahwa nilai ekspor sepanjang 2018 justru mendekati angka ekspor tahun 2012 dan 2013 lalu. BPS mencatat bahwa nilai ekspor tahun 2018 yang mencapai 180,05 miliar terus meningkat dari posisi tahun-tahun sebelumnya. 

Pada 2014 nilai ekspor sebesar 176,29 miliar dolar AS, kemudian turun menjadi 150,36 miliar dolar AS dan 144,43 miliar dolar AS pada 2015 dan 2016. Artinya, capaian angka ekspor pada 2018 hampir mendekati 2012 dan 2013 masing-masing 190,04 miliar dolar AS dan 182,55 miliar dolar AS. 

"Penurunan nilai ekspor sejak 2014 dapat dibalikkan oleh pemerintah," katanya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA