Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

BI: Suku Bunga AS tak akan Agresif di 2019

Senin 17 Des 2018 19:01 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Tangkapan layar menunjukkan suku bunga The Fed.

Tangkapan layar menunjukkan suku bunga The Fed.

Foto: AP
Arah kebijakan The Fed cenderung melunak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memandang bahwa suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve tidak akan kembali meningkat secara agresif pada 2019. 

Bank sentral AS akan melaksanakan sidang Komite Pasar Terbuka The Fed (FOMC) pada 18-19 Desember 2018. Hasilnya akan menentukan arah kebijakan bank sentral Indonesia.

"Tahun depan situasi lebih baik, terutama terkait kebijakan moneter Amerika, mungkin saja suku bunga Amerika tidak naik agresif di 2019," kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Museum BI di Jakata, Senin (17/12).

Disinggung lebih lanjut, Mirza memilih untuk menunggu hasil. Sedangkan, BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 19-20 Desember 2018, untuk turut menentukan arah kebijakan moneter ke depan.

"Kita tunggu guidance (petunjuk The Fed) besok, mereka akan berikan untuk tahun depan," ujarnya.

Sebagai catatan, setiap hasil FOMC juga akan disertai dot plot atau sebuah survei dari para anggota FOMC sebagai pengambil keputusan. Dot Plot kerap menjadi perkiraan secara de facto terkait kebijakan moneter The Fed untuk tingkat suku bunga ke depan.

Sepanjang tahuh ini, The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali. Ekseptasi pasar berdasarkan dot plot The Fed terakhir, masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sekali lagi pada Desember 2018 ini.

Namun, perkembangan terakhir dari gaya komunikasi petinggi The Fed justeru menunjukkan arah kebijakan moneter yang lebih melunak (dovish) dibandingkan sebelumnya. Hal itu dipicu data ekonomi AS yang belum sesuai ekspetasi, dan kemudian diperkuat dengan pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell pada akhir November 2018 lalu, bahwa suku bunga AS saat ini berada di level mendekati netral

Bahasa Powell tersebut merupakan bentuk komunikasi terbaru yang membuat pelaku pasar berkekspetasi bahwa The Fed tidak akan agresif lagi untuk menaikkan suku bunga acuan di 2019. Sepanjang tiga tahun terakhir pasar keuangan dunia dibayangi ketidakpastian karena kenaikan suku bunga acuan AS yang menjadi bagian normalisasi moneter di negara Paman Sam.

Baca juga, Defisit CAD, BI Dorong Solusi Ekspor dan Pariwisata

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA