Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Menkeu: Pergerakan Suku Bunga Pengaruhi Penjualan Properti

Senin 17 Dec 2018 17:05 WIB

Red: Nidia Zuraya

Suku bunga bank (ilustrasi).

Suku bunga bank (ilustrasi).

Foto: Wordpress.com
Kejatuhan sektor properti di AS karena buruknya pengelolaan kredit perumahan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa pergerakan suku bunga acuan maupun kurs dan pengetatan likuditas menjadi faktor yang bisa mempengaruhi pertumbuhan sektor properti. Menurutnya, koordinasi stabilitas makroekonomi dengan kebijakan moneter selalu dilakukan agar suku bunga acuan, nilai tukar dan likuiditas tidak mempengaruhi penjualan rumah maupun bangunan.

"Kondisi ini sesuatu yang harus diwaspadai karena sepanjang 2018 terjadi masalah nilai tukar, suku bunga, dan likuiditas yang cukup ketat," kata Sri Mulyani dalam membuka seminar proyeksi properti 2019 di Jakarta, Senin (17/12).

Pengelolaan ini menjadi penting, karena tidak hanya terkait pemenuhan rumah atau bangunan bagi masyarakat, namun juga kondisi perekonomian secara keseluruhan. Sri Mulyani bahkan menceritakan kejatuhan sektor properti di AS karena buruknya pengelolaan kredit perumahan dan berdampak kepada krisis keuangan global 2008-2009.

Pemulihan baru terjadi setelah Bank Sentral AS melakukan "Quantitative Easing" serta menurunkan suku bunga acuan hingga mendekati nol agar permintaan kembali meningkat. Untuk itu, ia menekankan pentingnya untuk mendorong kinerja sektor properti agar tetap tumbuh dan permintaan tidak berkurang terutama dari generasi milenial.

Selama ini, tambah dia, pemerintah juga telah menerbitkan kebijakan fiskal untuk mendukung pertumbuhan sektor properti, salah satunya melalui relaksasi kebijakan perpajakan. Relaksasi dari pungutan Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) maupun Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ini diharapkan bisa menggairahkan penjualan properti.

"Pertumbuhan sektor properti harus didukung karena mempunyai multiplier effect yang tinggi. Oleh karena itu, pemerintah memformulasikan kebijakan fiskal untuk menumbuhkan ekonomi," katanya.

Dalam kesempatan ini, Sri Mulyani juga menekankan pentingnya para pemangku kepentingan dalam bidang properti untuk aktif dalam revolusi industri 4.0 untuk mengantisipasi cepatnya perubahan teknologi. Selain itu, sinergi pemerintah dan swasta juga perlu ditingkatkan agar tercipta kerja sama yang lebih produktif terutama untuk mengantisipasi permintaan dari generasi milenial.

Seminar proyeksi properti 2019 merupakan acara yang diselenggarakan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) untuk membahas berbagai informasi, data, fakta maupun pandangan properti tahun depan.

Terdapat tiga isu utama dalam seminar ini yaitu tren perkembangan properti 2019 dipandang dari peluang, potensi dan tantangan, potensi properti di era revolusi industri 4.0 serta isu global terkait pemanfaatan aset dan potensi optimalisasi.



sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA