Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Saturday, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 February 2019

Laju Kurs Rupiah Kembali Melemah, Ini Kata Bank Indonesia

Senin 10 Dec 2018 23:03 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/11).

Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/11).

Foto: Republika/Prayogi
Rupiah menurun diyakini akibat melemahnya ekonomi Amerika Serikat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kurs rupiah ditutup melemah pada perdagangan awal pekan ini, Senin, (10/12). Berdasarkan data Bloomberg, pelemahannya sebesar 0,5 persen atau 73 poin di level Rp 14.553 per dolar AS.

Sebelumnya pagi tadi, kurs rupiah dibuka melemah sebesar 18 poin atau 0,12 persen di level Rp 14.498 per dolar AS. Kemudian pada pukul 09.00 WIB, rupiah turun 0,28 persen atau 41 poin ke Rp 14.521 per dolar AS. 

Sementara berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 14.517 per dolar AS. Nilai tersebut menguat dibandingkan posisi pada Jumat lalu di Rp 14.539 per dolar AS.

Menanggapi laju rupiah yang kembali melemah itu, Bank Indonesia (BI) mengatakan tengah merespon pelemahan di sesi pagi ini dengan kembali melakukan intervensi di pasar Domestic Nondeliverable Forward (DNDF).

"Pelemahan rupiah di sesi pagi masih disebabkan oleh kekhawatiran melemahnya ekonomi Amerika Serikat (AS) pascarilis data Nonfarm Payroll AS pada November 2018," ujar Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah di Jakarta, Senin, (10/12).

Ia menjelaskan, data itu menyebutkan, penyerapan angkatan kerja hanya tumbuh 155 ribu. Angka tersebut jauh lebih rendah dari perkiraan 198 ribu dan rata-rata pada 2018 yang sebesar 206 ribu. 

Hal ini menurutnya, menambah tekanan sell-off di pasar saham AS, yang sebelumnya sudah tertekan akibat memanasnya kembali tensi perang dagang AS dan China. "Pascanegoisasi kedua negara di sela sela forum G20, Indeks S&P 500 sudah anjlok 4,4 persen dalam sepekan terakhir," kata Nanang. 

Kekhawatiran melambatnya ekonomi AS, kata dia, tergambar pula di yield US Treasury Bond 10 tahun yang ke 8,3 persen. Itu mengakibatkan selisih yield antara tiga dan lima tahun US Treasury Note menjadi semakin negatif, pertama kalinya sejak 2007.

"Seharusnya merosotnya saham di AS yang bisa berdampak ke konumsi AS melalui jalur 'wealth effect'. Ditambah menurunnya yield obligasi AS yang menggambarkan ekspektasi pertumbuhan dan inflasi ke depan yang lebih rendah, akan menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan suku bunga the Fed di FOMC 18-19 Desember 2018 nanti," ujar Nanang. Ia menambahkan, setidaknya untuk arah suku bunga pada 2019. 

Selanjutnya di pasar uang, indeks future FFR dan Overnight Index Swap untuk 2019 dan 2020 sudah bergerak di bawah dot-plot FOMC. Artinya pasar berekspektasi the Fed akan mengurangi intensitas kenaikkan suku bunga pada 2019, bahkan kemungkinan mulai turun pada 2020.

"Dengan latar belakang tersebut, seharusnya tekanan pelemahan terhadap mata uang Emerging Market akan lebih kecil. Lalu terkait reaksi pasar hari ini lebih karena terjadinya aksi 'flight quality' atau 'knee-jerk reaction' yang sifanya jangka pendek ketika pasar tiba-tiba menghadap ketidakpastian ke depan yang meningkat," tuturnya.

Dalam merespon pergerakan kurs rupiah, Nanang menyatakan, BI kembali melakukan intervensi di pasar DNDF. Tujuannya mendorong 'market liquidity' DNDF sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar mata uang Garuda tersebut. (Iit Septyaningsih)

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA