Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

Sunday, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 December 2018

Arus Modal Masuk Rp 24 Triliun Bantu Rupiah Menguat

Sabtu 17 Nov 2018 15:01 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Petugas menunjukan pecahan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta (ilustrasi)

Petugas menunjukan pecahan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta (ilustrasi)

Foto: ANTARA
Pergerakan rupiah dinilai masih berada di bawah fundamental.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan arus modal masuk yang tercatat sejak awal November 2018 sebesar Rp24 triliun. Arus modal masuk itu turut memberikan andil kepada pergerakan rupiah yang cenderung menguat.

"Dari awal November, inflow Rp24 triliun masuk dari saham, SBN maupun 'corporate bonds'," katanya dalam pelatihan wartawan di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (17/11).

Dody mengatakan, tren penguatan rupiah sejak akhir Oktober 2018 ini telah menekan depresiasi mata uang terhadap dolar AS yang sejak awal tahun mencapai 7,14 persen.

Meski demikian, ia menilai pergerakan rupiah saat ini masih berada di bawah fundamental atau undervalued karena mata uang masih berpotensi untuk mengalami penguatan lebih lanjut.

"Kalau melihat gambaran fundamental dan outlook seharusnya rupiah tidak melemah. Tapi rupiah tidak sendirian, karena di emerging market lain juga terjadi. Siapa yang bisa menahan capital tidak keluar dari emerging market, kalau ada tekanan dari negara maju," ujarnya.

Dody memastikan BI terus melaksanakan mandat untuk menjaga nilai tukar dengan memperbaiki neraca transaksi berjalan yang masih mengalami defisit dan hal tersebut telah dilakukan melalui kenaikan suku bunga.

Baca juga, Rupiah Melanjutkan Penguatan.

"Instrumen moneter yang kita lakukan untuk menyakinkan inflasi dan 'current account deficit' terjaga. Kalau terjaga, tentunya kebijakan moneter, posisinya netral. Tapi misalkan inflasi aman, kurs tidak aman, maka suku bunga disesuaikan, karena itu mandat kita," katanya.

Dalam jangka pendek, ia mengharapkan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Ji Xinping pada akhir November 2018 bisa memberikan sentimen positif kepada pelaku pasar keuangan dan pergerakan rupiah secara keseluruhan.

"Feeling saya pertemuan itu hasilnya positif dan bisa menenangkan pasar keuangan. Kalau masih berbalik, artinya tantangan bank sentral dan 'emerging market' masih ada," ujar Dody.

Pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar AS mengalami penguatan hingga mencapai Rp14.608 pada penutupan Jumat (16/11), meski pada akhir Oktober 2018 tercatat pada kisaran Rp15.200, atau terapresiasi sebesar empat persen dalam kurun waktu dua minggu.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES