Tuesday, 12 Rajab 1440 / 19 March 2019

Tuesday, 12 Rajab 1440 / 19 March 2019

Cukai Rokok Indonesia Tertinggi se-Asia Tenggara

Selasa 09 Oct 2018 18:49 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Gita Amanda

Gambar peringatan merokok (ilustrasi).

Gambar peringatan merokok (ilustrasi).

Foto: Republika/Friska Yolandha
Kebijakan cukai rokok sebagai upaya pengendalian pasar rokok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia menjadi negara yang mengenakan biaya cukai untuk rokok tertinggi di Asia Tenggara. Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai, Direktorat Jendral Bea dan Cukai, Nugroho Wahyu Widodo mengatakan sejak 2015, cukai rokok terus mengalami kenaikan. Adanya kebijakan kenaikan cukai rokok menurut Nugroho sebagai upaya pengendalian pasar rokok. Saat ini, cukai rokok telah naik lebih dari tiga kali inflasi.

“Kami menaikan sudah cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. cukai itu naik lebih dari tiga kali inflasi, naik 15,4 persen,” kata Nugroho disela-sela diskusi Kenaikan Cukai dan Harga Rokok untuk Melindungi Masyarakat dan Generasi Penerus Bangsa yang diselenggarakan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) di Pusat Dakwah Muhammadiyah pada Selasa (9/10).

Nugroho mengatakan negara lainnya tak berani menaikan cukai rokok terlalu tinggi dalam persentase hingga melebihi inflasi. Namun, kebijakan Indonesia untuk menaikan cukai rokok sebagai komitmen melakukan pengendalian terhadap pasar rokok.

Selain itu Nugroho mengatakanbdenhan menekan tarif dan melakukan pengaturan harga rokok, Indonesia mampu dengan baik mengontrol pasar rokok.

Nugroho menjelaskan jika dibandingkan berdasarkan pendapatan per kapita per hari warga Indonesia, harga rokok di Indonesia saat ini sudah sangat mahal bahkan dibandingkan di Jepang. Dengan itu diharapkan terjadi pula penurunan jumlah perokok.

Menurutnya di Jepang, untuk memperoleh uang membeli sebungkus rokok, per individu hanya perlu bekerja selama sejam saja. Sementara di Indonesia, untuk memperoleh uang untuk membeli rokok, per kapita harus bekerja selama 4 jam terlebih dahulu.

“Jangan dibandingkan nominalnya saja, bandingkan juga pendapatan per kapita. Kita sudah empat kali lipat harganya dari Jepang,” tuturnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
Terpopuler