Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Jokowi Sampaikan Pidato ala Game of Thrones di Panggung IMF

Jumat 12 Okt 2018 12:54 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Indira Rezkisari

Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10).

Foto: Antara
Jokowi mengatakan, pentingnya menggalang kekuatan mengalahkan Evil Winter.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengibaratkan hubungan antara negara-negara ekonomi maju akhir-akhir ini semakin terlihat seperti Game of Thrones. Yaitu dalam kondisi adanya balance of power dan aliansi antar negara-negara ekonomi maju sepertinya tengah mengalami keretakan.

 

Buruknya hubungan antarnegara ini dinilainya memicu terjadinya berbagai masalah, seperti peningkatan harga minyak mentah secara drastis, dan lainnya. Hal ini disampaikannya saat memberikan sambutan pada pembukaan Annual Meetings IMF-World Bank Group, di Nusa Dua Hall Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Jumat (12/10).

“Lemahnya kerja sama dan koordinasi telah menyebabkan terjadinya banyak masalah, seperti peningkatan drastis harga minyak mentah, dan kekacauan di pasar mata uang yang dialami negara-negara berkembang,” kata Presiden Jokowi, dikutip dari laman Setkab.

Dalam serial Game of Thrones, ungkap Presiden, sejumlah great houses, great families, bertarung hebat satu sama lain untuk mengambil alih kendali The Iron Throne. Perebutan kekuasaan antar para Great Houses itu bagaikan sebuah roda besar yang berputar seiring perputaran roda satu Great Houses yang tengah berjaya sementara House yang lain mengalami kesulitan. Dan setelahnya, House yang lain berjaya dengan menjatuhkan House yang lainnya.

Namun yang mereka lupa yakni saat Great Houses sibuk bertarung satu sama lain, mereka tak sadar adanya ancaman besar dari utara yakni seorang Evil Winter, yang ingin merusak dan menyelimuti dunia dengan es dan kehancuran. Dengan adanya kekhawatiran ancaman Evil Winter tersebut, akhirnya mereka sadar tidak penting siapa yang menduduki The Iron Throne.

“Yang penting adalah kekuatan bersama untuk mengalahkan Evil Winter, agar bencana global tidak terjadi, agar dunia tidak berubah menjadi tanah tandus yang porak-poranda yang menyengsarakan kita semuanya,” lanjutnya Jokowi.

Presiden Jokowi mengutip pernyataan Sekjen PBB Antonio Guterres, bahwa sudah sangat mendesak bagi seluruh negara untuk bertindak dalam skala besar-besaran guna mencegah kehancuran dunia akibat perubahan iklim global yang tak terkendali. Karena itu, lanjut dia, seluruh negara harus bekerja sama menyelamatkan kehidupan. Presiden pun mempertanyakan kembali, apakah saat ini merupakan saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi.

“Sekali lagi, apakah sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi? Ataukah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk kerjasama dan kolaborasi. Apakah kita terlalu sibuk untuk bersaing dan menyerang satu sama lain sehingga kita gagal menyadari adanya ancaman besar yang membayangi kita semuanya? Apakah kita gagal menyadari adanya ancaman besar yang dihadapi oleh negara kaya maupun miskin, oleh negara besar ataupun negara keci?” kata Jokowi.

Presiden pun yakin, konfrontasi dan perselisihan justru akan mengakibatkan penderitaan bagi seluruh pihak. Menurut dia, tak akan ada artinya nanti bagi negara yang menang dan menjadi kekuatan ekonomi terbesar namun dunia justru tenggelam akibat persaingan.

 

Jokowi mengatakan, saat ini telah memasuki sesi terakhir dari pertarungan ekspansi ekonomi global yang penuh rivalitas dan persaingan. Ia mengingatkan, bisa jadi situasi ini yang lebih genting dibanding krisis finansial global 10 tahun yang lalu.

“Kami bergantung kepada Bapak/Ibu semuanya, para pembuat kebijakan moneter dan fiskal dunia untuk menjaga komitmen dan kerjasama global,” kata Presiden Jokowi.

Ia pun berharap para peserta Annual Meetings IMF-World Bank Group akan berkontribusi dalam mendorong para pemimpin dunia untuk menyikapi keadaan ini secara tepat.

Tampak hadir dalam acara ini antara lain Managing Director IMF Christine Lagarde, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, para kepala Bank Sentral se-dunia, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Mensesneg Pratikno, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA