Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

Sabtu, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 Februari 2019

Solusi Defisit, Menkeu: Ekspor yang Naik, Bukan Impor Turun

Senin 24 Sep 2018 21:26 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi pembicara utama di hadapan para pengusaha Indonesia dalam seminar di Jakarta, Jumat (14/9).

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi pembicara utama di hadapan para pengusaha Indonesia dalam seminar di Jakarta, Jumat (14/9).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Kinerja ekspor yang naik menunjukkan daya saing Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang diprediksi mencapai 25 miliar dolar AS sepanjang 2018 idealnya diatasi melalui upaya peningkatan ekspor. Solusi pemangkasan defisit, bukan mengurangi impor.

"Idealnya CAD dipecahkan dengan ekspor yang naik, bukan impornya yang turun," kata Sri Mulyani dalam Seminar Nasional Peningkatan Ekspor Nasional dan Dukungan Pemangku Kebijakan di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (24/9).

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan, kinerja ekspor yang naik menunjukkan daya saing Indonesia makin tinggi karena bisa memproduksi sendiri barang yang tadinya tidak perlu diimpor.

Sri Mulyani mencontohkan beberapa komoditas yang masih diimpor terutama berasal dari industri makanan seperti teh, kopi, dan coklat. Padahal, Indonesia termasuk produsen dari komoditas-komoditas tersebut.

Ia berharap Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank dapat mengidentifikasi apa yang menjadi halangan dari komoditas-komoditas tersebut untuk diproduksi dalam negeri.

Sri Mulyani menjelaskan, saat ini Indonesia tengah mengalami tekanan dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena menghadapi defisit transaksi berjalan.

Dalam dua tahun terakhir (2016-2017), defisit transaksi berjalan mencapai sekitar 17 miliar dolar AS. Defisit tersebut mampu diimbangi oleh surplus neraca transaksi modal dan finansial pada kisaran 29 miliar dolar AS.

Selama semester I-2018, defisit transaksi berjalan telah mencapai 13,7 miliar dolar AS, terdiri dari 5,7 miliar dolar AS pada triwulan I-2018 dan 8 miliar dolar AS triwulan II-2018.

Ekspor barang pada semester I-2018 mencapai sekitar 88,2 miliar dolar AS, namun impor cukup tinggi mencapai 85,6 miliar dolar AS. Sementara surplus neraca transaksi modal dan finansial hanya mencapai 6,5 miliar dolar AS. Strategi pengendalian impor dibutuhkan mengingat masih terdapat risiko arus modal keluar lebih tinggi akibat kebijakan kenaikan suku bunga acuan The Fed lebih lanjut.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB