Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Saturday, 7 Zulhijjah 1439 / 18 August 2018

Kembali Anjlok, Kurs Rupiah Tembus Rp 14.400 per Dolar AS

Rabu 18 July 2018 11:12 WIB

Red: Nidia Zuraya

Rupiah

Rupiah

Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Pelemahan rupiah salah satunya dipicu pernyataan Gubernur Bank Sentral AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (18/7) bergerak melemah. Kurs rupiah terhadap dolar AS melemah 32 poin menjadi Rp 14.410 dibanding posisi sebelumnya Rp 14.378 per dolar AS.

Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra mengatakan pelemahan rupiah didorong pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang mengindikasikan kenaikan suku bunga acuan sehingga dolar terapresiasi. "Dolar kembali menguat setelah pimpinan The Fed menunjukkan sikap optimistis terhadap perekonomian AS, dan memperkuat ekspektasi suku bunga naik dua kali lagi," ujar Putu di Jakarta, Rabu (18/7).

Sebelumnya, Powell mengatakan di depan Komite Perbankan Senat AS pada Selasa (17/7) bahwa untuk saat ini, jalan terbaik ke depan untuk bank sentral adalah terus meningkatkan suku bunga acuan federal fund secara bertahap. "Kami menyadari bahwa di satu sisi, menaikkan suku bunga terlalu lambat dapat menyebabkan inflasi yang tinggi atau ekses pasar keuangan. Di sisi lain, jika kami menaikkan suku bunga terlalu cepat, ekonomi dapat melemah dan inflasi dapat terus berlangsung di bawah target kami," ujar Powell.

Baca juga, Dolar AS dan Babak Belurnya Ayam Petelur

"Seperti biasa, tindakan-tindakan kami akan bergantung pada prospek ekonomi, yang mungkin berubah ketika kami menerima data baru," katanya, seraya menambahkan bahwa ekonomi AS telah tumbuh 'pada kecepatan yang mantap' sepanjang tahun ini, dengan pasar kerja yang kuat dan inflasi dekat dengan target bank sentral.

Powell mengatakan kekhawatiran tentang kebijakan perdagangan pemerintahan Trump 'mungkin juga' berdampak pada upah AS dan pengeluaran modal, meskipun belum muncul dalam angka-angka. Namun, Powell percaya bahwa masih terlalu dini untuk mengatakan bagaimana kebijakan perdagangan akan memengaruhi kebijakan moneter The Fed, karena pihaknya 'sulit untuk memprediksi' hasil akhir dari diskusi saat ini mengenai kebijakan perdagangan serta ukuran dan waktu efek ekonomi dari stimulus fiskal.

Dalam laporan kebijakan moneter semi-tahunan yang disampaikan kepada Kongres pekan lalu, The Fed telah menegaskan kembali bahwa akan tetap pada kenaikan suku bunga bertahap dengan harapan ekspansi ekonomi berkelanjutan. Bulan lalu, bank sentral menaikkan kisaran target untuk suku bunga acuan federal fund untuk kedua kalinya tahun ini, dan memperkirakan lebih dari dua kenaikan suku bunga untuk tahun ini.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES