Sunday, 12 Safar 1440 / 21 October 2018

Sunday, 12 Safar 1440 / 21 October 2018

Rupiah Kembali Melemah, Apa yang Perlu Dilakukan?

Sabtu 09 Jun 2018 11:41 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Budi Raharjo

Petugas menunjukkan uang dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung di Jakarta. (ilustrasi)

Petugas menunjukkan uang dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung di Jakarta. (ilustrasi)

Foto: Hafidz Mubarak/Antara
Pelaku pasar menunggu dan mengamati pengumuman kebijakan moneter The Fed pekan depan

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada penutupan Jumat (8/6) kembali melemah 27 poin, dari Rp 13.875 per dolar AS sehari sebelumnya menjadi Rp 13.903 per dolar AS. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Bali, Causa Iman Karana mengatakan penilaian nilai tukar rupiah saat ini masih bersifat sementara (temporary).

Pasar masih fluktuatif karena kondisi eksternal dan internal. "Koordinasi dengan pemerintah di berbagai level dilakukan. Akumulasi cadangan devisa diperhatikan, caranya dengan mendorong ekspor, mengurangi impor, atau menyubtitusi impor," kata Causa, Sabtu (9/6).

Bank Indonesia, sebut Causa tentunya merespons dengan langkah preemptive atau hati-hati dan terukur untuk mencermati risiko eksternal. Pelaku pasar menunggu dan mengamati pengumuman kebijakan moneter The Fed pekan depan untuk mengetahui proyeksi berapa kali lagi suku bunga akan dinaikkan tahun ini.

Causa mengatakan kenaikan suku bunga pertama di AS direspons pasar, terutama negara berkembang (emerging market), seperti Brasil, Turki, dan Filipina. Kurs mata uang di negara-negara tersebut juga melemah, bahkan depresiasinya lebih besar dibanding Indonesia. "Jadi, sebetulnya nilai tukar kita masih terkendali," kata Causa.

Bank Indonesia baru-baru ini menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bsp) menjadi 4,75 persen. Kebijakan ini diambil oleh Gubernur BI baru dilantik, Perry Warjiyo empat hari pascapelantikan. Causa menilai makroekonomi Indonesia masih bagus. "Kita masih punya ruang cukup lebar untuk antisipasi ke depan," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES