Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Minggu, 21 Ramadhan 1440 / 26 Mei 2019

Ini Alasan Grab tak Naikkan Tarif

Rabu 25 Jul 2018 18:47 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolanda

 Ratusan pengemudi ojek online (Ojol) melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (27/3).

Ratusan pengemudi ojek online (Ojol) melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (27/3).

Foto: Republika/Wihdan
Aplikator dinilai perlu mendengarkan aspirasi pengemudi ojek daring.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekelompok pengemudi ojek daring (online) berencana akan melakukan aksi demo saat Asian Games 2018 berlangsung. Pengemudi ojek daring menuntut kenaikan tarif yang layak seperti saat perusahaan aplikasi transportasi daring muncul pertama kali. 

Mengenai hal tersebut, salah satu perusahaan aplikator ojek daring, Grab Indonesia, mengungkapkan pihaknya memiliki alasan tersendiri mengapa hingga saat ini belum menaikkan tarif. "Apabila Grab menaikkan tarif secara signifikan dikhawatirkan justru akan berpotensi menurunkan jumlah permintaan penumpang," kata Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata kepada Republika.co.id, Rabu (25/7). 

Dia menilai jika ada kenaikan tarif justru akan berdampak negatif terhadap pengemudi ojek daring. Terutama, kata dia, mengancam kelangsungan pendapatan ratusan ribu mitra pengemudi ojek daring Grab. 

Ridzki menegaskan pada dasarnya Grab menghargai hak setiap warga negara, termasuk para mitra pengemudi untuk menyampaikan pendapat. Hanya saja jika hal tersebut dilakukan secara damai, dalam koridor hukum, dan peraturan yang berlaku.

Di sisi lain, pengamat transportasi Djoko Setijowarno melihat tidak ada salahnya mempertimbangkan suara dari para mitranya. "Pihak aplikator yang sudah untung besar harusnya juga mau berbagi keuntungan dengan pihak pengemudi," ungkap Djoko. 

Baca juga, Ojek Online Diminta Pikir Ulang Demonstrasi Saat Asian Games

Apalagi, kata Djoko, aplikator ojek daring juga sudah menjadi sponsor dari perhelatan besar Asian Games 2018. Menurut Djoko, seharusnya aplikator bukan hanya sekadar menjadi sponsor namun urusan mitranya juga dikesampingkan. 

Sebab, lanjut Djoko, jika tanpa pengemudi maka belum tentu perusahaan aplikasi transportasi daring menjadi besar seperti saat ini. "Driver adalah ujung tombak bagi aplikator untuk meraup keuntungan yang cukup besar," jelas Djoko. 

Djoko mengakui tanpa adanya pengemudi atau mitranya, belum tentu perusahaan aplikator bisa beroperasi seperti saat ini. Paling tidak meski kenaikan tarif sulit dipilih, Djoko beharap perushaan aplikator juga bisa berbagi keuntungan.

Pengemudi ojek daring berencana akan melakukan aksi demo pada pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Sekelompok pengemudi ojek daring dari Gerakan Aksi Roda Dua (Garda) menuntut ada kenaikan tarif menjadi Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per kilometer. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA