Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Jokowi: Inovasi Fintech Jangan Dibatasi Regulasi

Kamis 11 Oct 2018 13:26 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya

Presiden Joko Widodo memberikan pidato sambutan dalam acara Bali Fintech Agenda di Nusa Dua, Bali pada Kamis (11/10).

Presiden Joko Widodo memberikan pidato sambutan dalam acara Bali Fintech Agenda di Nusa Dua, Bali pada Kamis (11/10).

Foto: Ahmad Fikri Noor/Republika
Regulasi ketat dinilai Jokowi mendorong kegiatan ekonomi menjauh dari ruang siber.

REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA -- Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa perkembangan inovasi financial technology (fintech) jangan dibatasi oleh regulasi. Apalagi, menurut Jokowi, saat ini teknologi dan internet sudah memasuki fondasi ekonomi.

Baca Juga

"Kita telah menjalankan inovasi yang sistematis, dan internet boom saat ini sangat masuk ke fondasi ekonomi," ujar Jokowi dalam pidatonya di "The Bali Fintech Agenda" Pertemuan Tahunan IMF-WBG di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10).

Seiring dengan perkembangan fintech dan ekonomi digital yang begitu pesat, Presiden mengingatkan soal prinsip regulasi yang menjadikan internet begitu pesat pada ekonomi nasional sekitar 20 tahun lalu.

Pada 25 tahun lalu, Jokowi menerangkan, internet boom pertama kali terjadi dengan munculnya perusahaan AOL dan Yahoo. Saat itu, yang membuat internet boom adalah keputusan regulasi yang sangat modern dari Presiden AS Bill Clinton.

Pertama, regulasi yang ramah dan akuratif ini mencegah intervensi pemerintah yang terlalu berlebihan. Kedua, memberi para kreator untuk menciptakan tanpa takut akan kewajiban sipil dan hukum apabila eksperimen mereka gagal.

"Eksperimen meningkat dan memberi dampak pada ekonomi dan fondasi dari internet yang kita gunakan saat ini. Termasuk metode pembayaran seperti PayPal, ApplePay, AliPay, WeChat, dan inovasi serupa yang telah mengubah cara hidup jutaan orang di dunia," tutur Jokowi.

Menurut Jokowi, seperti 25 tahun yang lalu, pemerintah tidak boleh terburu-buru untuk mengeluarkan regulasi. Pemerintah seharusnya membiarkan mereka tumbuh sebelum kemudian membuat regulasi.

"Jadi, kita harus sikapi gelombang inovasi dengan regulasi yang ringan dan ruang aman untuk inovasi masyarakat. Inovasi mungkin gagal, tapi itulah eksperimen, tapi tanpa itu tidak ada inovasi. Oleh karena itu, sangat kontradiktif bila bicara inovasi, tapi memberi sanksi atas kegagalan secara berlebihan," katanya menjelaskan.

Meski banyak regulasi lama, lanjut dia, penetrasi internet sudah sangat besar selama 25 tahun terakhir. Kapasitas bandwith sudah meningkat pesat, sekarang semua hal dapat menjadi viral karena kecepatan internet.

Menurut Jokowi, regulasi yang terlalu mengekang di tingkat nasional akan memaksa konsumer menuju ranah internet yang tidak teregulasi, akhirnya akan mendorong mereka semakin jauh dari ruang regulasi pemerintah.

Apabila regulasi terlalu ketat di tingkat nasional, hal itu hanya mendorong kegiatan ekonomi menjauh dari ruang siber. Nantinya, tidak hanya jadi tidak bisa mengatur industri ini, tapi juga akan kehilangan potensinya.

"Di Indonesia kita harus akui bahwa kita masih punya banyak tugas untuk menyuarakan situasi ini dan kebutuhan pragmatis di dalam birokrasi. Tapi, saya yakin, kita bisa menolong semua dengan standar platform dunia," kata Jokowi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA