Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Fintech ALAMI Dorong Perempuan Akses Pendanaan Syariah

Jumat 10 Aug 2018 12:04 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Dwi Murdaningsih

Ibu dan wanita karier/ilustrasi

Ibu dan wanita karier/ilustrasi

Foto: straighterline.com
Perempuan memiliki risiko kredit yang lebih rendah dibandingkan pria.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan teknologi finansial (tekfin) aggregator syariah ALAMI melakukan sosialisasi pendanaan syariah kepada para pengusaha perempuan di Jakarta, Selasa (7/8). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah ALAMI memperluas jangkauan nasabah sekaligus sarana berbagi ilmu terkait bisnis dan beragam jenis permodalan serta cara mengaksesnya.

CEO ALAMI Dima Djani menyoroti keberadaan wirausaha perempuan yang saat ini posisinya sangat mendominasi bisnis UKM dan sektor kreatif tanah air. Mengacu pada laporan Profil Usaha/Perusahaan 16 Subsektor Ekraf Berdasarkan Sensus Ekonomi 2016 (SE2016) dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), hampir sebesar 54,96 persen sektor usaha ini didalangi oleh pengusaha perempuan.

"Jumlah ini pastinya akan terus meningkat seiring dengan pengaruh teknologi dan pesatnya arus informasi. Namun yang mesti perlu diperhatikan adalah bagaimana agar bisnis-bisnis ini menjadi sustainable atau tetap bertahan di tengah gempuran kompetisi," kata Dima melalui siaran pers, Rabu (8/8).

Salah satu cara agar bisnis bisa bertahan dan tentunya berkelanjutan dengan mengerti berbagai opsi permodalan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan. Meskipun demikian, jika melihat data dari International Financial Institution (IFC) tahun 2016, sebanyak 40 persen perempuan lebih cenderung meminjam uang ke lembaga selain bank karena bank dianggap memiliki persyaratan yang rumit. Padahal, studi yang sama menemukan perempuan memiliki risiko kredit yang lebih rendah dibandingkan pria.

Teknologi Digital Dongkrak Pendapatan IKM

Kondisi di atas menjadi salah satu permasalahan yang diakibatkan oleh keterbatasan informasi terhadap produk-produk perbankan. Hal itulah yang juga menjadi alasan ALAMI untuk menjembatani keterbatasan akses tadi dengan lembaga keuangan syariah.

Dima meyakini, upaya menjembatani akses ke permodalan dengan sumber-sumber perdanaan yang lebih berkah dapat menyebarkan semangat kewirusahaan yang lebih kuat lagi bagi kalangan pengusaha-pengusaha muda di Indonesia.

Menurut Dima, ALAMI mengusung teknologi aggregator dan credit scoring yang transparan. ALAMI optimistis bisa memberikan banyak nilai tambah baik bagi nasabah dan perbankan syariah yang bermitra dengan ALAMI. Meskipun ALAMI mengambil posisi sebagai penengah antara nasabah dan lembaga keuangan syariah, Dima menyatakan bisnisnya sangat relevan dengan ekosistem bisnis UKM Indonesia saat ini.

Sebanyak 51 persen usaha kecil dan 34 persen usaha menengah dimiliki oleh perempuan. "Angka ini menunjukkan potensi pasar yang masih sangat luas untuk dilayani oleh ALAMI, sekaligus mampu memberikan kami ruang untuk berkontribusi dalam mendorong penetrasi inklusi keuangan syariah di Indonesia," imbuhnya.

ALAMI menyasar kelompok masyarakat dengan latar belakang pengusaha. Alasannya, pengusaha UKM ini sangat mengandalkan sosok owner, dimana pemilik usaha kerap dihadapkan dengan keterbatasan waktu, pilihan dan minimnya informasi sumber pendanaan yang cocok dengan kondisi keuangan bisnisnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES