Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Mendes PDTT Ajak Entaskan Desa Tertinggal di Bengkulu

Ahad 05 August 2018 21:04 WIB

Red: Friska Yolanda

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo saat menjadi pembicara dalam dialog nasional di Gelanggang Olahraga Bengkulu, Sabtu (4/8).

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo saat menjadi pembicara dalam dialog nasional di Gelanggang Olahraga Bengkulu, Sabtu (4/8).

Foto: dok Mendes PDTT
Dampak dari dana desa itu sangat besar dalam percepatan pembangunan desa.

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU -- Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengajak seluruh masyarakat di Bengkulu untuk bersama-sama membangun desa agar lebih maju dan berkembang. 

Hal itu disampaikan Mendes Eko saat menjadi pembicara dalam dialog nasional dengan tema Indonesia Maju bersama dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah di Gelanggang Olahraga Bengkulu, Sabtu (4/8). 

Eko menilai, provinsi Bengkulu merupakan salah satu provinsi kaya karena memiliki tanah yang subur, pantai yang indah, dan sumber daya manusia yang memiliki etos kerja yang kuat dalam menggapai keinginannya membangun desa yang lebih baik. Namun, meskipun memiliki banyak potensi alam dan sumber daya manusia ternyata Bengkulu masih banyak memiliki desa yang tertinggal. Oleh karena itu perlu ada langkah secara bersama-sama agar Bengkulu tidak lagi memiliki desa tertinggal.

"Saya berharap masyarakat Bengkulu dapat memanfaatkan dana desanya dengan baik dan ikut mengawal dana desa sehingga desa-desa tertinggal ataupun desa miskin yang ada di Bengkulu bisa cepat terentaskan. Saya berjanji akan banyak meluangkan waktu ke bengkulu untuk secara bersama-sama mengentaskan kemiskinan dan melepaskan ketertinggalannya desa yang masih ada di Bengkulu," katanya.

photo

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo saat menjadi pembicara dalam dialog nasional di Gelanggang Olahraga Bengkulu, Sabtu (4/8).

Lebih lanjut Eko menyampaikan pemerintah pusat telah menggelontorkan anggarannya melalui dana desa selama empat tahun mencapai Rp 187 triliun. Dengan angka sebesar itu sudah banyak yang mengubah desa tertinggal menjadi berkembang dan desa berkembang menjadi desa mandiri.

"Karena dampak dari dana desa itu sangat besar dalam percepatan pembangunan desa dan meningkatkan ekonomi di desa," katanya.

Dampak dari dana desa tersebut antara lain sebagai penunjang aktivasi ekonomi masyarakat dengan membangun sekitar 123.858 kilometer jalan desa, 781.258 meter jembatan dan 6.576 unit pasar desa. Selain itu, dana tersebut juga membangun tambatan perahu sebanyak 2.960 unit, 28.830 unit irigasi, 3.111 unit sarana olahraga dan pembangunan embung sebanyak 1.971 unit.

Dana desa juga berdampak dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan membangun 67.094 penahan tanah, 38.331 sarana air bersih dan 112.003 MCK. Juga, pembangunan 5.402 polindes, 38.217.065 meter drainase, 18.177 paud, 11.574 posyandu dan pembangunan sumur sebanyak 31.122 unit.

photo

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo.

"Alhamdulillah pemanfaatan dana desa selama tiga tahun sudah terlihat hasilnya. Kita juga melihat terjadinya penurunan kemiskinan yang cukup signifikan. Tahun ini tingkat kemiskinannya menyentuh single digit yakni 9,8 persen. Kalau ini bisa terus kita pertahankan, maka dalam lima tahun ke depan jumlah orang miskin di desa akan jauh lebih kecil daripada di kota. Demikian juga penurunan stunting juga cukup besar," katanya.

Dalam kesempatan itu Eko menyarankan agar pemanfaatan dana desa tidak fokus diarahkan ke pembangunan infrastruktur karena infrastruktur di Bengkulu sudah cukup memadai. Sehingga, dana desa disarankan digunakan kearah peningkatan perekonomian yang ada di desa.

"Kepada Kepala desa, saya minta agar dana desanya mulai lebih banyak digunakan untuk pemberdayaan ekonomi sehingga desanya mempunyai pendapatan yang lebih besar dari dana desa. Dana desa itu sebagai stimulus saja karena desa nantinya akan memiliki pendapatan utamanya dari BUMDes. Karena sekarang ini sudah banyak BUMDes yang keuntungan bersihnya lebih dari Rp 10 miliar. Bahkan, seperti daerah ponggok itu keluarga yang tidak mampu dibiayai oleh desa dan setiap rumah wajib menyekolahkan anaknya hingga universitas dengan dibiayai oleh desa. Kalau disana bisa, seharusnya di Bengkulu juga bisa," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA