Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Industri China Tertekan karena Lockdown

Senin 27 Jun 2022 12:55 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

Dalam foto yang dirilis oleh Xinhua News Agency, sebuah kapal kontainer dari Jepang berlabuh di dermaga kontainer Pelabuhan Yangshan Shanghai di China timur pada 27 April 2022. Laba perusahaan di industri China mulai menyusut lebih lambat pada Mei 2022 setelah penurunan tajam pada April 2022.

Dalam foto yang dirilis oleh Xinhua News Agency, sebuah kapal kontainer dari Jepang berlabuh di dermaga kontainer Pelabuhan Yangshan Shanghai di China timur pada 27 April 2022. Laba perusahaan di industri China mulai menyusut lebih lambat pada Mei 2022 setelah penurunan tajam pada April 2022.

Foto: Chen Jianli/Xinhua via AP
Laba perusahaan China turun 6,5 persen secara tahunan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Laba perusahaan di industri China mulai menyusut lebih lambat pada Mei 2022 setelah penurunan tajam pada April 2022. Biro Statistik Nasional China (NBS) pada hari Senin (27/6/2022) menyampaikan laba turun 6,5 persen secara tahunan, lebih kecil dibandingkan penurunan 8,5 persen pada April 2022.

Hal ini karena aktivitas produksi di pusat-pusat manufaktur utama mulai dilanjutkan. Namun pembatasan COVID-19 masih membebani produksi pabrik dan menekan margin pendapatan.

Baca Juga

Namun demikian, peningkatan pada Mei didorong oleh lonjakan profit di sektor pertambangan batu bara dan ekstraksi minyak dan gas. Sementara keuntungan di sektor manufaktur turun 18,5 persen.

Ahli Statistik Senior NBS, Zhu Hong mengatakan, secara keseluruhan, kinerja perusahaan industri telah menunjukkan beberapa perubahan positif. Tetapi perlu dicatat bahwa pertumbuhan laba industri dari tahun ke tahun terus turun, dengan meningkatnya tekanan biaya dan kesulitan dalam produksi dan operasi.

"Fundamental untuk pemulihan tidak kokoh," kata Zhu, dilansir di Reuters.

Dengan produksi yang meningkat secara bertahap dari bulan lalu, penurunan laba perusahaan menyempit lebih dari 20 poin persentase. Ini terutama terjadi di industri di Shanghai yang dilanda COVID, provinsi timur Jiangsu dan provinsi timur laut Jilin dan Liaoning.

Beberapa pabrik memulai kembali operasi di kota-kota seperti Shanghai setelah //lockdown//. Tetapi, pasar properti yang lemah dan kekhawatiran akan gelombang infeksi yang berulang telah membayangi produksi pabrik dan menimbulkan keraguan atas pemulihan yang lesu di ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Keuntungan di perusahaan manufaktur mobil menyusut 37,5 persen dalam lima bulan pertama, sedangkan untuk sektor peleburan logam besi turun 64,2 persen. Selama periode lima bulan yang sama, pendapatan perusahaan industri tumbuh 9,1 persen menjadi 53,16 triliun yuan, melambat dari pertumbuhan 9,7 persen dalam empat bulan pertama.

Ekonomi China menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada Mei setelah merosot pada bulan sebelumnya karena produksi industri pulih. Tetapi konsumsi tetap lemah dan menggarisbawahi tantangan bagi pembuat kebijakan di tengah hambatan terus-menerus dari pembatasan ketat COVID-19.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA