Senin 26 Oct 2020 06:35 WIB

ADB: UMKM Kunci Pemulihan Ekonomi Asia Tenggara

UMKM menyumbang rata-rata 41 persen dari PDB tiap negara Asia Tenggara.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya
Asian Development Bank (ADB)
Foto: brecorder.com
Asian Development Bank (ADB)

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA – Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebutkan, penguatan dinamika Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) melalui inovasi dan internasionalisasi akan menjadi kunci untuk merevitalisasi ekonomi Asia Tenggara setelah hancur akibat Covid-19. Pandangan ini disampaikan ADB dalam laporan terbarunya, Asia Small and Medium-Sized Enterprise Monitor (ASM) 2020 edisi pertama.  

UMKM merupakan kekuatan utama dan penting untuk mendorong perekonomian Asia Tenggara. Jumlahnya 97 persen dari dunia usaha dan menyerap 97 persen angkatan kerja nasional dalam periode 2010 hingga 2019.

Baca Juga

UMKM juga menyumbang rata-rata 41 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tiap negara dalam periode yang sama.

Tapi, Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada menyebutkan, UMKM di ekonomi Asia Tenggara masih menghadapi beberapa tantangan. Di antaranya, pengembangan yang masih berfokus pada pasar domestik dan tingkat kewirausahaan belum optimal.

ADB menganjurkan agar pemerintah dan pemangku kepentingan dapat membantu UMKM melewati tantangan tersebut. "Mendukung pengembangan UMKM, khususnya dalam adaptasi teknologi dan partisipasi dalam rantai pasok global, akan berkontribusi pada pertumbuhan yang inklusif dan membantu pemulihan dari Covid-19," ujar Sawada, seperti dikutip di laporannya, Ahad (25/10).

Sawada menjelaskan, transformasi ekonomi Asia dan pemulihan pandemi menawarkan peluang ke negara-negara untuk mempercepat peluang bisnis UMKM. Khususnya dengan memahami lebih dalam terkait digitalisasi dan merangkul layanan keuangan digital maupun e-commerce, tanpa meninggalkan sisi ‘tradisional’ UMKM.

Sawada mengakui, rancangan kebijakan untuk UMKM kini menjadi lebih menantang karena kompleksitas iklim usaha UMKM dan eksternal yang berubah dengan cepat. "Pemerintah harus menyadari perubahan ini sembari memantau pergerakan sentimen  bisnis dan membuat kebijakan yang sifatnya adaptif," ucapnya.

Laporan ASM 2020 menyediakan kumpulan data dan analisis yang beragam tentang pengembangan UMKM di Asia Tenggara sebelum pandemi. Sawada optimistis, laporan ini akan mampu menjadi tolok ukur untuk membantu pemerintah dalam merancang rencana yang layak bagi UMKM di tengah keadaan normal baru di tiap negara.

Laporan ASM 2020 akan dirilis dalam empat edisi. Volume kedua laporan akan dirilis pada Rabu (28/10) dengan tema dampak Covid-19 terhadap UMKM di Indonesia, Laos, Filipina dan Thailand yang dirilis berdasarkan survei pada Maret hingga Mei 2020.

Tantangan yang dihadapi oleh UMKM di negara-negara tersebut diperparah oleh pandemi. Permintaan produk maupun jasa UMKM menurun sejak awal pandemi. Hal ini mengakibatkan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pengurangan operasi bisnis dan tekanan terhadap prospek UMKM.

Sementara itu, dua jilid ASM 2020 yang tersisa akan dirilis pada akhir 2020. Mereka membahas dampak pinjaman berbasis teknologi finansial (fintech) bagi pengemudi trisikad atau becak di Filipina dan penilaian teknis yang akan menyajikan Indeks Pengembangan UMKM ADB versi terbaru.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement