Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

Monday, 13 Sya'ban 1441 / 06 April 2020

IMF: Ekonomi AS Terancam Risiko Jangka Menengah

Selasa 25 Jun 2019 09:00 WIB

Red: Nur Aini

Dana Moneter Internasional (IMF)

Dana Moneter Internasional (IMF)

Foto: www.topnews.in
Pembalikan tiba-tiba di pasar keuangan dan sengketa dagang mengancam ekonomi AS.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dewan Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin (24/6/2019) memperingatkan akan peningkatan risiko jangka menengah terhadap ekonomi Amerika Serikat. Dia mencatat bahwa pembalikan tiba-tiba dari kondisi pasar keuangan atau mendalamnya sengketa perdagangan yang sedang berlangsung merupakan risiko material terhadap ekonomi AS.

Baca Juga

"Sistem keuangan tampak sehat tetapi kerentanan pada leverage korporasi," kata dewan eksekutif IMF dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri konsultasi Pasal IV tahunannya untuk meninjau ekonomi AS.

Dewan eksekutif mencatat bahwa rasio utang publik terhadap PDB AS berada di jalur yang tidak berkelanjutan. Hal itu diperkirakan akan terus meningkat selama jangka menengah, karena pengeluaran terkait penuaan meningkat.

Konsultasi tersebut berfokus pada kebijakan yang diperlukan untuk mengatasi risiko, menjaga stabilitas keuangan, mendukung standar hidup bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah rumah tangga, dan membangun kembali ruang fiskal. PDB riil AS diperkirakan akan tumbuh pada tingkat tahunan 2,6 persen tahun ini, sebelum turun moderat menjadi 1,9 persen pada 2020, menurut pernyataan itu.

"Kewaspadaan yang berkelanjutan, kebijakan ekonomi makro yang hati-hati, dan reformasi di sisi pasokan akan sangat penting untuk mengamankan pertumbuhan yang kuat, seimbang, dan inklusif, menghasilkan dampak positif ke seluruh dunia," kata dewan eksekutif IMF.

Meskipun hasil ekonomi makro positif, dewan eksekutif mengatakan "manfaat dari ekspansi selama satu dekade ini belum dibagikan seluas mungkin," mendesak pemerintah AS untuk mengatasi peningkatan ketimpangan pendapatan dan meningkatkan hasil sosial.

Pada kebijakan moneter, dewan eksekutif menyambut jeda Federal Reserve dalam penyesuaian suku bunga. Mereka setuju bahwa setiap kenaikan lebih lanjut dalam suku bunga federal fund harus ditunda sampai ada tanda-tanda yang lebih jelas dari upah atau inflasi harga.

Dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari pekan lalu, The Fed menahan kisaran target untuk suku bunga federal fund tidak berubah pada 2,25 persen hingga 2,5 persen. Hal itu menyoroti peningkatan "ketidakpastian" tentang prospek ekonomi AS dan membuka pintu untuk menurunkan suku bunga di waktu mendatang.

Dewan eksekutif IMF juga mendorong Amerika Serikat untuk bekerja secara konstruktif dan kooperatif dengan mitra dagangnya untuk mengatasi distorsi dalam sistem perdagangan. Mereka juga mengharapkan menyelesaikan ketegangan perdagangan dengan cara yang meningkatkan sistem perdagangan internasional berbasis aturan yang lebih terbuka, stabil, dan transparan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA