Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Nilai Tukar Dolar AS Meningkat Didukung Penjualan Ritel

Sabtu 15 Jun 2019 08:06 WIB

Red: Friska Yolanda

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar. Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Jumat (1/3/2019).

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar. Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Jumat (1/3/2019).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Katalis positif penguatan dolar AS juga dari pertemuan The Fed pada 18-19 Juni.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kurs dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (14/6), dengan indeks dolar naik ke level tertinggi dalam hampir dua pekan. Penguatan dolar AS terjadi setelah rilis data penjualan ritel menggembirakan untuk Mei.

Departemen Perdagangan AS mengatakan penjualan ritel naik 0,5 persen pada bulan lalu, tepat di bawah ekspektasi para ekonom untuk kenaikan 0,6 persen. Data untuk April direvisi naik menjadi menunjukkan penjualan ritel menguat 0,3 persen, bukannya turun 0,2 persen seperti yang dilaporkan sebelumnya.

Baca Juga

Indeks dolar AS terhadap sekeranjang mata uang terakhir mencapai 97,35, naik 0,53 persen pada hari itu dan tertinggi sejak 3 Juni. Dolar AS telah pulih pada pekan terakhir setelah mengawali Juni dengan melemah, karena investor mempertimbangkan apakah ekspektasi untuk penurunan suku bunga AS telah terlalu dibuat-buat relatif terhadap data.

Dengan pertumbuhan ekonomi internasional yang melambat, investor khawatir bahwa Presiden AS Donald Trump akan mengenakan tarif pada Jepang dan Eropa. Keputusan ini dapat mengakibatkan bank sentral lebih dovish secara global dan memberikan dolar keuntungan relatif. Ekonomi AS juga dipandang memiliki posisi yang lebih baik untuk menangani ketegangan perdagangan dibandingkan negara lain.

Data Cina pada Jumat menunjukkan lebih banyak tanda-tanda peringatan, dengan pertumbuhan output industri secara tak terduga melambat pada Mei ke level terendah dalam lebih dari 17 tahun. Cina juga mengalami pendinginan investasi, menggarisbawahi perlunya stimulus lebih besar.

The Fed tidak secara luas diperkirakan akan menurunkan suku bunga ketika bertemu pada 18-19 Juni. Namun demikian, investor akan memperhatikan sinyal baru bahwa pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS mungkin akan dilakukan pada Juli.

Katalis utama lainnya untuk dolar AS dalam waktu dekat adalah apakah Amerika Serikat dan Cina akan memperbarui negosiasi perdagangan di KTT G20 pada 28-29 Juni di Jepang. Trump mengatakan pada Jumat bahwa tidak masalah jika Presiden China Xi Jinping menghadiri KTT. Ia menambahkan bahwa Cina pada akhirnya akan membuat kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1208 dolar AS dari 1,1279 dolar AS di sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2584 dolar AS dari 1,2682 dolar AS di sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,6866 dolar AS dari 0,6916 dolar AS.

Dolar AS dibeli 108,56 yen Jepang, lebih tinggi dari 108,32 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9990 franc Swiss dari 0,9933 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3416 dolar Kanada dari 1,3325 dolar Kanada.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA