Rabu, 14 Zulqaidah 1440 / 17 Juli 2019

Rabu, 14 Zulqaidah 1440 / 17 Juli 2019

Penjualan Ritel AS pada Mei Meningkat

Sabtu 15 Jun 2019 07:46 WIB

Red: Friska Yolanda

Troli belanja tak bertuan berdiri di tengah lapangan parkir sebuah pusat perbelanjaan di Marlborough, Massachusetts, Amerika Serikat, Senin (3/6). Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencatat penjualan ritel naik 0,5 persen pada Mei 2019.

Troli belanja tak bertuan berdiri di tengah lapangan parkir sebuah pusat perbelanjaan di Marlborough, Massachusetts, Amerika Serikat, Senin (3/6). Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencatat penjualan ritel naik 0,5 persen pada Mei 2019.

Foto: AP Photo/Bill Sikes
Peningkatan penjualan ritel didorong pembelian kendaraan bermotor dan bahan bangunan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencatat adanya kenaikan penjualan ritel pada Mei. Pemerintah setempat juga merevisi penjualan ritel pada April yang sebelumnya tercatat turun. Meski tidak merepresentasikan pertumbuhan secara keseluruhan, peningkatan penjualan ini menurunkan kekhawatiran perlambatan ekonomi pada kuartal kedua.

Departemen perdagangan AS menyatakan pada Jumat (14/6) penjualan ritel Mei naik 0,5 persen, didorong oleh pembelian kendaraan bermotor oleh rumah tangga. Penjualan ritel April dilaporkan tumbuh 0,3 persen, bukan turun 0,2 persen seperti dilaporkan sebelumnya.

Baca Juga

Selain kendaraan, pertumbuhan penjualan juga didorong oleh pembelian bahan bangunan, furnitur, dan elektronik. Warga AS juga menghabiskan uang lebih banyak melalui platform penjualan online untuk kebutuhan mereka dan hobi.

Diluar kendaraan, bensin, bahan bangunan dan layanan makanan, penjualan ritel bulan lalu naik 0,5 persen. Penjualan ritel inti ini paling sesuai dengan komponen pengeluaran konsumen pada produk domestik bruto (PDB).

Pengeluaran konsumen menyumbang lebih dari dua per tiga aktivitas ekonomi. Prospek untuk konsumsi sedikit redup, disebabkan oleh pertumbuhan upah yang menurun. Terlebih, pertikaian AS dan Cina yang tak kunjung usai sedikit banyak membuat perekonomian tak bergairah.

Persiden AS Donald Trump pada awal Mei memberlakukan tarif tambahan hingga 25 persen pada barang-barang Cina senilai 200 miliar dolar AS. Hal ini mendorong pembalasan dari Beijing dengan metode yang sama. Trump pada Senin (10/6) kembali mengecam akan meningkatkan tarif lebih tinggi pada Cina jika tidak ada kesepakatan dengan Presiden Xi Jinping pada pertemuan puncak G20 di Jepang.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA